Senin, 11 April 2011

ZONING REGULATION, ZONING, ZONA
Menurut pengertiannya, zona, zoning dan zoning regulation yaitu. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik lingkungan yang spesifik.
Zoning adalah pembagian kawasan ke dalam beberapa zona sesuai dengan fungsi dan karakteristik semula atau diarahkan bagi pengembangan fungsi-fungsi lain.
Sedangkan zoning regulation dapat didefinisikan sebagai ketentuan yang mengatur tentang klasifikasi, notasi dan kodifikasi zona-zona dasar, peraturan penggunaan, peraturan pembangunan dan berbagai prosedur pelaksanaan pembangunan.

Tujuan
Tujuan penyusunan peraturan zonasi dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Mengatur kepadatan penduduk dan intensitas kegiatan, mengatur keseimbangan dan keserasian peruntukan tanah dan menentukan tindak atas suatu satuan ruang.
2. Melindungi kesehatan, keamanan dan kesejahteraan masyarakat.
3. Mencegah kesemrawutan, menyediakan pelayanan umum yang memadai serta meningkatkan kualitas hidup.
4. Meminimumkan dampak pembangunan yang merugikan.
5. Memudahkan pengambilan keputusan secara tidak memihak dan berhasil guna serta mendorong peran serta masyarakat.

Fungsi peraturan zonasi adalah
1. Sebagai pedoman penyusunan rencana operasional. Peraturan zonasi dapat menjadi jembatan dalam penyusunan rencana tata ruang yang bersifat operasional, karena memuat ketentuan-ketentuan tentang perjabaran rencana dari yang bersifat makro ke dalam rencana yang bersifat meso sampai kepada rencana yang bersifat mikro (rinci).
2. Sebagai panduan teknis pemanfaatan lahan. Ketentuan-ketentuan teknis yang menjadi kandungan peraturan zonasi, seperti ketentuan tentang penggunaan rinci, batasan-batasan pengembangan persil dan ketentuan-ketentuan lainnya menjadi dasar dalam pengembangan dan pemanfaatan lahan.
3. Sebagai instrumen pengendalian pembangunan. Peraturan zonasi yang lengkap akan memuat ketentuan tentang prosedur pelaksanaan pembangunan sampai ke tata cara pengawasannya. Ketentuan-ketentuan yang ada karena dikemas dalam aturan penyusunan perundang-undangan yang baku dapat dijadikan landasan dalam penegakan hukum.

Kedudukan Zonasi
Dalam praktek penataan ruang, peraturan zonasi lebih penting kedudukannya ketimbang perencanaan dan harus ditetapkan sebagai prioritas dalam penyusunannya . Begitu pentingnya peraturan zonasi ini sehingga ada pendapat yang mengatakan better regulation without planning rather than planning without regulation. Konsepsi increamental planning seperti yang dipraktekkan di Houston dan floating zone sebagaimana yang diberlakukan di Perancis, dapat dikatakan mencerminkan hal tersebut. Houston tidak memiliki zoning plan, sedangkan Perancis menyusun konsepsi zoning plan atas dasar zona existing. Tetapi mereka memiliki regulasi yang kuat untuk alat bernegosiasi, yaitu Houston dengan peraturan land usenya dan Perancis dengan peraturan zonasinya . Demikian juga pengalaman kota Jakarta semasa zaman kolonial dan dua dekade awal kemerdekaan. Pemerintah Hindia Belanda tidak pernah menyusun Master Plan kota Jakarta tetapi hanya menyiapkan sebuah peraturan yaitu Kringen Type Verordening 1941 / KTV 1941 ( Peraturan Lingkungan dan Jenis Bangunan 1941 ). Peraturan ini sudah dapat digolongkan sebagai peraturan zonasi dalam bentuk yang sederhana karena materi yang diatur masih sangat terbatas sesuai dengan kondisi kota Jakarta pada saat itu. Namun peraturan inilah yang dipakai sebagai acuan dalam perencanaan bagian-bagian wilayah kota Jakarta seperti Menteng, Kebayoran. KTV 1941 kemudian dianggap sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan kota Jakarta dan dinyatakan tidak berlaku melalui Perda 6 Tahun 1999
Pada hampir semua negara, peraturan zonasi ditetapkan sebagai peraturan nasional, meskipun yang diatur adalah muatan yang lebih bersifat lokal, seperti di Inggris, Perancis, Jepang , Malaysia dlsbnya. Amerika Serikat juga sampai sekarang masih menetapkan zoning sebagai peraturan nasional dan telah diadopsi oleh banyak kota di sana. Namun masih diberikan kelonggaran bagi setiap kota untuk menyusun peraturan zonasinya sendiri. Demikian juga hendaknya bagi Indonesia , seyogyanya peraturan ini bersifat nasional. Dengan peraturan yang sifatnya nasional, lebih mudah melaksanakan pemaduan serasian rencana tata ruang antar wilayah yang setara.
Selain peraturan zonasi memang ada ketentuan dan peraturan lain yang dikembangkan setelah suatu rencana rinci selesai disusun. Itulah peraturan yang disebut development control plan di Inggris dan beberapa negara persemakmurannya atau urban design guidelines di Amerika Serikat. Peraturan ini sifatnya supplement dan sangat spesifik dan hanya diberlakukan pada zona yang dikategorikan sebagai overlay zone, yaitu kawasan yang minimal memiliki dua kepentingan yang berbeda sehingga memerlukan penanganan khusus. Misalnya pusat kota, daerah bandara dan sekitarnya, kawasan heritage, kawasan tepi air dan lain sebagainya. Sedangkan zoning regulation sifatnya generik dan berlaku umum untuk setiap jengkal lahan perkotaan.
Peraturan zonasi dikenal dengan berbagai istilah antara lain :
- Zoning code ( San Diego )
- Zoning ordinance ( New York )
- Zoning and land development code ( Palm Beach )
- Zoning resolution / zoning regulation ( beberapa kota di Amerika Serikat )
- Town Planning Act and Zoning Code ( Jepang )
- Town and Country Planning Act ( Inggris, Singapore, Malaysia )
- Reglement de zone ( Perancis ).
Secara umum model peraturan zonasi yang berkembang di berbagai negara dapat dikelompokkan menjadi 3 model yaitu : floating zoning (Perancis), flexible zoning dan rigid zoning (Amerika Serikat). Akan tetapi model rigid zoning sudah banyak ditinggalkan oleh beberapa kota di dunia.
Zoning di Indonesia
Penerbitan KTV 1941 (peraturan tentang lingkungan dan jenis bangunan) untuk kota Jakarta oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1941 dapat dikatakan merupakan awal kehadiran peraturan zonasi di Indonesia. Dalam perjalanannya terutama pada era kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, KTV 1941 dianggap sudah tidak relevan lagi dengan tuntutan pembangunan kota pada saat itu, karena :.
Pertama ; KTV 41 sama sekali belum mengatur tentang pembangunan bangunan tinggi dan kedua ; karena klasifikasi zonasi yang ada sudah tidak lagi sesuai dengan pertumbuhan kota Jakarta sebagai kota metropolitan. KTV 41 menetapkan klasifikasi zonasi menjadi 3 kategori utama, yaitu zona urban , zona rural dan zona umum. Ketentuan- ketentuan yang tercantum dalam peraturan pembangunan sub zona rural terutama tentang batasan minimum luas petak, KDB, serta pemanfaatan lahannya semata untuk lahan pertanian menjadi kendala bagi pembangunan Jakarta.
Untuk menutupi kekurangan tersebut maka pada tahun 1975 diterbitkanlah Peraturan Daerah No.4 Tahun 1975 tentang Ketentuan Bangunan Bertingkat di Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta . Setelah itu berbagai Keputusan Gubernur yang terkait dengan pembangunan kota juga diterbitkan (SK Gub No. 540, SK 640, SK 678 dan lain sebagainya). Semua peraturan tersebut tersebar dalam beberapa dokumen yang terpisah dan satu sama lainya tumpang tindih dan kadang saling bertentangan. Disamping itu dari sisi hukum, SK Gubernur kekuatan hukumnya sangat lemah.
Akhirnya Perda 6 Tahun 1999 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi DKI Jakarta, menyatakan bahwa KTV 41 tidak berlaku lagi dan diamanatkan untuk segera menyusun peraturan zonasi sebagai gantinya. Sebenarnya upaya untuk menyusun peraturan zonasi di Jakarta sudah dimulai pada awal tahun 1980- an dan kebetulan penulis termasuk yang ditugasi menyusun Peraturan dimaksud. Pekerjaan dimulai dengan mengumpulkan dan mempelajari peraturan zonasi yang berlaku pada beberapa kota di dunia dan setelah mencari model yang kira-kira sesuai dengan kondisi Jakarta, akhirnya peraturan zonasi untuk Jakarta berhasil disusun pada tahun 2002 tetapi masih dalam bentuk Rancangan Peraturan Daerah. Naskah Raperda tentang zonasi ini bahkan oleh Pemerintah DKI Jakarta, cq Dinas Tata Kota telah desiminasikan ke berbagai instansi dan perguruan tinggi, antara lain Dinas-dinas teknis di lingkungan Pemda, Bappeda, Ditjen Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum, Bappenas, ITB, UI dan lain-lain. Hasil positipnya adalah kesadaran tentang pentingnya peraturan ini semakin meluas dan apa yang selama ini diharapkan yaitu agar peraturan zonasi menjadi salah satu ketentuan perundangan berhasil diwujudkan. Namun sayangnya raperda dimaksud sampai hari ini belum disahkan menjadi perda karena tidak adanya political will ditingkat pimpinan DKI untuk menyelesaikannya.
Sebagai kesimpulan dapat disampaikan bahwa kelahiran zoning di Amerika maupun Inggris mempunyai latar belakang yang hampir serupa yaitu untuk mengendalikan keserakahan pengusaha properti maupun industri. Sehingga tidaklah salah apabila ada beberapa pakar perencanaan kota memberi respons positip tentang zoning antara lain Robert Hood yang menyatakan bahwa zoning adalah langkah awal menuju community planning di mana milik perorangan tunduk terhadap kepentingan kesejahteraan masyarakat dan Hugh Ferris yang menyatakan bahwa zoning adalah dimensi demokratik dalam pembangunan kota karena melindungi hak publik terhadap hak property yang semula tidak terbatas.
Di Indonesia yang mendorong Pemerintah Hindia Belanda menyusun KTV 1941 adalah sebagai respons terhadap berbagai permasalahan lingkungan kota tua saat itu akibat munculnya hunian-hunian kumuh yang tidak hygienis .Perencanaan sebagian daerah Menteng dan Kebayoran Baru dibuat berdasarkan peraturan tersebut. Sampai saat ini tidak ada kawasan yang bisa menandingi perencanaan daerah Menteng dan Kebayoran, sekalipun Pondok Indah ataupun Simprug. Tetapi sayangnya kondisi Menteng dan Kebayoran sekarang ini secara perlahan tetapi pasti sedang menuju degradasi lingkungan yang parah. Semuanya diawali dengan kemunculan berbagai kegiatan yang tidak kompatibel dengan penggunaan lahan di kedua wilayah tersebut.

Sumber
gedebudi.wordpress.com
http://imazu.wordpress.com/zoning/
www.google.com
REPUBLIK TOGO
Tugas ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah: Geografi Politik
Dosen pengampu : Gunardo RB.Msi






Disusun oleh:

Nama : Gayuh Budi Laksono
NIM : 07405241025
Prodi : Pendidikan Geografi Reguler



JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2009








NEGARA TOGO
Republik Togo (6°7′N, 1°13′E) adalah sebuah negara di Afrika Barat, berbatasan dengan Ghana di barat, Benin di timur dan Burkina Faso di utara. Di sebelah selatan, Togo mempunyai pesisir Teluk Guinea yang kecil, di mana ibu kota Togo, Lomé berada dengan jumlah penduduk 800 ribu jiwa, suhu udara rata-rata sekitar 27 derajat Celsius.
 Hari Kemerdekaan: Tanggal 27 April (tahun 1960)
 Hari Nasional: Tanggal 27 April (tahun 1960)
Motto
Travail, Liberté, Patrie(Bahasa Perancis: Kerja, Kebebasan, Tanah Air)
Lagu:
Salut à toi, pays de nos aïeux

Ibu kota Lomé(dan kota terbesar)

Bahasa resmi
Perancis

Pemerintahan
Republik

- Presiden
Faure Gnassingbé

- Perdana Menteri
Gilbert Houngbo

Kemerdekaan
- Air (%)
4,2%
Penduduk
5.200.000/106 (2006)

PDB (KKB)
- Total
- Per kapita
- estimate
tiada data (tiada data)
tiada data (tiada data)

Mata uang
Franc CFA (XOF)

TLD
.tg
Kode telepon
228

1. Sejarah
Sejarah barat tidak mencatatkan yang ada di Togo sebelum orang-orang Portugis tiba di sana pada abad ke-15. Semasa itu dari abad ke-11 sehingga abad ke-16, pedagang masuk ke dalam kawasan ini dari semua arah: Ewé dari Nigeria dan Benin, serta Mina dan Guin dari Ghana. Kebanyakan mereka menetap di kawasan-kawasan pantai. Perdagangan bermula pada abad ke-16, pedagang Mina mendapat paling banyak manfaat. Selama dua ratus tahun kemudian, kawasan pantai ini merupakan pusat utama untuk orang-orang Eropa yang datang untuk mencari budak, dan menyebabkan Togo serta kawasan-kawasan bersekitaran dinamai Pantai Abdi.
Dalam sebuah perjanjian di Togoville pada tahun 1884, Jerman memiliki wilayah di sepanjang pantai sebagai sebuah negeri naungan, dan beransur-ansur memperluas penguasaannya masuk ke pedalaman. Pada tahun 1905, kawasan tersebut menjadi sebuah tanah jajahan Jerman. Selepas Perang Dunia I, tanah jajahan ini terpecah menjadi dua buah kekuasaan Liga Negara-Negara yang masing-masing ditadbirkan oleh United Kingdom dan Perancis. Selepas Perang Dunia II, mandat-mandat tersebut menjadi Wilayah Amanah Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu(persemakmuran). Penduduk-penduduk Togoland British mendiami Pantai Emas sebagian negara merdeka Ghana yang baru, manakala Togoland Perancis menjadi sebuah republik autonomi di dalam Kesatuan Perancis. Pada tahun 1960, Togo menjadi sebuah negara merdeka di bawah Sylvanus Olympio. Bertahun-tahun ketakstabilan politik menyusul, dan memuncak dengan Lt. Kol. Étienne Eyadéma merampas kuasa pada 13 Januari 1967.
Gnassingbe Eyadema meninggal dunia pada awal tahun 2005 selepas memegang kuasa selama 38 tahun, dan merupakan diktator yang paling lama di Afrika. Pelantikan anaknya, Faure Gnassingbe, oleh PM Togo sebagai presiden membangkitkan penolakan di berbagai tempat. Bagaimanapun, pemerintahannya tidak lama. Faure menarik diri dan mengadakan pemilihan yang menyebabkan kemenangan Prashay Dhupelia, dua bulan kemudian. Pihak pembangkang mengatakan bahwa pengundian itu dimanipulasi. Perkembangan-perkembangan pada tahun 2005 menimbulkan soalan-soalan baru tentang komitmen demokrasi yang dibuat oleh Togo pada tahun 2004 dalam sebuah usaha untuk memulihkan hubungannya dengan Eropa yang menghentikan bantuannya pada tahun 1993, akibat penindasan hak asasi manusia. Juga, 500 orang telah dibunuh dalam keganasan politik yang menyelubungi pemilihan presiden, menurut PBB. Sekitar 40,000 orang Togo melarikan diri ke negara-negara lain.

2. Geografi
Togo terletak di Afrika Barat dan merupakan negara sub-Sahara yang kecil. Togo berbatasan dengan Teluk Benin di selatan, Ghana di barat, Benin di timur, dan Burkina Faso di utara. Garis pantai sepanjang 53 kilometer.
Di bagian utara tanahnya kebanyakan merupakan sabana dicirikan oleh savanah beralun, berbeda dari bagian tengah Togo yang berbukit-bukit. Sebelah selatan Togo sebagian besar adalah hamparan besar yang mencapai bagian pesisir yang terdiri dari laguna dan rawa-rawa mempunyai sebuah penara yang terbentang sehingga dataran pantai yang mengandung banyak lagun dan tanah payau, sedangkan utaranya tergolong iklim padang rumput tropis. Luas daratannya adalah 21.927 mi2, dengan kepadatan sebesar 232 jiwa/mi2 penduduk purata sebanyak 253 orang per batu persegi (98/km²). Pada tahun 1914, negara ini menukarkan namanya daripada Togoland kepada Togo.

3. Daerah
Togo dibagi kedalam lima kawasan yang dibagi menjadi 30 buah prefektur dan sebuah komun. Kawasan-kawasannya dari utara ke selatan ialah Savanes, Kara, Centrale, Plateaux dan Maritim.
Pembagian administratif
Togo dibagi kepada 5 wilayah:
• Centrale
Region Centrale merupakan satu dari lima region di Togo. Ibu kota region ini ialah Sokodé.Kota utama lainnya di region ini ialah Tchamba dan Sotoboua.Centrale terdiri dari 5 prefektur yaitu Blitta, Sotouboua, Tchamba, dan Tchaudjo.
• Kara
• Maritime
• Plateaux
• Savanes
 Berikut adalah daftar kota-kota di Togo:
• Agbodrafo
• Aného
• Atakpamé
• Badou
• Bafilo
• Bassar
• Dapaong
• Kara
• Kpalimé

• Lomé
Lomé adalah ibu kota negara, sekaligus kota terbesar Togo. Penduduknya berjumlah 726.000 jiwa (2004).Lomé adalah ibu kota Togo. Itu di pantai di Teluk Guinea di sebelah selatan negara. Lomé didirikan di 18. abad. Sejak 1897 adalah ibu kota Togo. Di antara monumen penting dalam kota termasuk Lome Grand Pasar, National Museum of Togo, Palais de Congres Lome dan Cathedral. Lomé yang juga pantai yang sebagian besar di hotel. The tallest bangunan di lantai 2 Lome Février Sofitel Hotel. Ada juga bandara Lome - Tokoin. Saat ini tinggal di sana sekitar 740 ribu orang. Di kota Mei menunjuk sejumlah tempat-tempat wisata, seperti Abomey Royal Palace km tentang 145, Asan km tentang 310, Osuna-Osogbo km tentang 409, Kekuatan dan istana, dan Volta Accra km tentang 296
• Niamtougou
• Sokodé
• Togoville
• Tsévié

4. Populasi
Populasi: 5,2 juta jiwa pada tahun 2005, terdiri dari 40 lebih suku etnis. Bahasa resmi adalah bahasa Perancis. Sekitar 70% penduduknya beragama fetisisme, 20% beragama Kristen, dan 10% lainnya menganut Islam. Harapan hidup masyarakat : 57 tahun (pria), 60 tahun (wanita) (Sumber:United Nations)

5. Politik
pada tanggal 27 September tahun 1992, referendum menerima baik UUD keempat. Pada tanggal 30 Desember tahun 2002, parlemen mengadakan revisi terhadap sebagian pasal UUD. Menurut UUD, presiden merupakan kepala negara dan komandan tertinggi angkatan bersenja, terpilih langsung oleh pemilihan dengan masa jabatannya lima tahun, dan boleh terpilih kembali secara berturut-turut. Presiden berhak membubarkan parlemen dan mengumumkan pemberlakuan hukum yang diterima baik parlemen serta melaksanakan amnesti. Perdana menteri dicalonkan oleh golongan mayoritas dalam parlemen dan dilantik oleh presiden. Perdana menteri bertanggung jawab kepada parlemen, dan parlemen boleh mengajukan mosi tidak percaya terhadap perdana menteri. Pelantikan perdana menteri baru harus dilakukan berdasarkan resolusi yang diterima baik oleh parlemen dengan 2/3 suara. UUD boleh direvisi menurut mosi presiden dan parlemen, diterima baik melalui pemungutan suara parlemen atau referendum. Parlemen Togo melaksanakan sistem dua kongres yang terdiri dari Parlemen Nasional dan Senat. Parlemen Nasional melaksanakan legislasi dan mengadakan pengawasan terhadap kinerja pemerintahan. Anggotanya dipilih langsung dengan masa jabatan lima tahun, boleh terpilih kembali.

6. Ekonomi
Salah satu negara paling tidak maju di dunia yang diumumkan PBB. Ekonomi sub-Sahara Togo yang kecil ini amat bergantung kepada pertanian komersil serta pertanian masyarakat yang memberikan pekerjaan kepada 65% daripada tenaga buruhnya. Koko, kopi, dan kapas memberikan lebih kurang 30% daripada perolehan ekspor Togo. Togo adalah negara mampu dari segi bahan makanan, pertanian. Dalam sektor perindustrian, pelombongan fosfat merupakan kegiatannya yang paling penting walaupun ekonomi Togo sedikit terbelakang, akibat kejatuhan harga fosfat dunia serta persaingan asing yang meningkat. Pendapatan negara kasar (PNK) per kapita ialah AS$380 (Bank Dunia, 2005).
Togo bertindak sebagai sebuah pusat komersil dan perdagangan wilayah. Usaha kerajaan selama sedekade yang dibantu oleh Bank Dunia dan IMF untuk melaksanakan langkah-langkah reformasi ekonomi, menggalakkan investasi asing, dan menyebabkan hasil negara pendapatan dengan perbelanjaan sedikit berimbang.
Pergolakan politik, termasuk pemogokan dalam sektor pertanian, industri dan swasta pada sepanjang tahun 1992 dan 1993 telah menjelaskan reformasi, menyusutkan pendapatan, serta mengganggu kegiatan-kegiatan ekonomi yang penting. Penurunan nilai mata uang pada 12 Januari 1994 sebanyak 50% memberikan dorongan yang penting pada sektor usaha baru. Usaha-usaha itu dimudahkan oleh keahlian pemilikan pada tahun 1994 dan pengembalian kepada para politik yang terang-terangan. Kemajuan negara ini bergantung kepada keterbukaan operasi-operasi kewangan pemerintah (untuk memberi kebebasan sosial yang lebih banyak) dan mungkin pembatasan rejim itu telah memperbaiki keadaan. Kekurangan bantuan, bersama-sama dengan harga bahan makanan yang murah, mengakibatkan penurunan Anggaran Pendapatan sebanyak 1% pada tahun 1998, dan pertumbuhan yang berangsur membaik pada tahun 1999.

7. Diplomasi
Berpegang teguh pada kebijakan luar negeri yang netral, non-blok dan bertetangga rukun, menganjurkan pengembangan hubungan kerjasama bersahabat dengan semua negara pada dasar yang sama derjat, saling menguntungkan, saling menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah. Menitik beratkan pengembangan hubungan dengan negara-negara Barat untuk memperoleh lebih banyak bantuan. Sementara itu melaksanakan pula politik luar negeri yang plural untuk meningkatkan hubungan dengan negara-negara Asia. Mementingkan persatuan Afrika, dengan positif ambil bagian dalam urusan kawasan Afrika, dan berupaya mendorong pengintegrasian ekonomi regional.
Juga Parlemen Togo telah menghapuskan hukuman kapital dan mengubah hukuman mati yang telah dijatuhkan menjadi hukuman penjara seumur hidup. "Ini adalah langkah bersejarah di daerah Afrika tersebut dan ini mengindikasikan sebuah cara untuk melawan kekerasan, memperbaiki keamanan, mencegah terjadinya perpecahan dan mempromosikan sebuah proses rekonsiliasi nasional yang kompleks dan jujur. Sebuah proses yang tidak memilih hukuman mati namun menghargai hidup manusia, bahkan hidup seorang lawan atau seseorang yang dipercaya telah melakukan kejahatan. Fakta bahwa Parlemen Togo telah mencapai keputusan ini secara keseluruhan harus dianggap sebagai sebuah contoh bagi Afrika dan seluruh bagian dunia lainnya.", kata Mario Marazziti, koordinator kampanye global Komunitas Sant’Egidio melawan hukuman mati. Ini merupakan hasil dari usaha panjang rakyat Togo beserta tokoh-tokoh politiknya sebagai salah satu langkah yang dianggap perlu dalam proses rekonsiliasi nasional. Komunitas Sant’Egidio mendukung dan secara cermat mengikuti seluruh proses legislatif melalui dialog dengan opini publik. Komunitas juga menyelamati para pemimpin Togo atas keberanian yang patut dicontoh dalam mengambil langkah yang dapat merepresentasikan keseluruhan benua Afrika ini.

8. Pemerintahan
Faure Gnassingbe secara resmi di lantik Senin setelah kematian ayahnya walaupun ditengah-tengah maraknya protes yang dilemparkan Perancis, mantan negara penjajah Togo dan sebagian besar dari negara-negara Afrika dengan mengatakan hal itu sebagai sesuatu tindakan yang inkonstitusional.
Pihak oposisi mengatakan "Togo ibarat negara yang sudah mati" dan menyerukan agar seluruh lapisan masyarakat tetap berada dirumah sebagai pertanda dari penolakan mereka atas perubahan kekuasaan yang mereka anggap sebagai "kudeta militer".
Togo berusaha meredam hujan kritik setelah sebelum menunjuk presiden baru, melakukan sejumlah perubahan pada undang-undang dasarnya untuk memuluskan suksesi bagi Faure Gnassingbe.


 Daftar Perdana Menteri Togo
Berikut merupakan daftar Perdana Menteri Togo . Tanggal yang dicetak miring menunjukkan indikasi kontinuitas pemerintahan de facto, meskipun sifat jabatannya mungkin telah berubah.
Periode Jabatan Pejabat Afiliasi
Republik Togo Otonom

10 September 1956 - 22 Februari 1958
Nicolas Grunitzky, Perdana Menteri
PTP
Republik Togo (Teritorial Perancis)

22 Februari 1958 - 16 Mei 1958
Nicolas Grunitzky, Perdana Menteri
PTP
16 Mei 1958 - 27 April 1960
Sylvanus Olympio, Perdana Menteri
CUT
Republik Togo (Kemerdekaan Negara)

27 April 1960 - 12 April 1961
Sylvanus Olympio, Perdana Menteri
CUT
12 April 1961 - 27 Agustus 1991
Post Abolished
27 Agustus 1991 - 23 April 1994
Joseph Kokou Koffigoh, Perdana Menteri
CFN
23 April 1994 - 20 Agustus 1996
Edem Kodjo, Perdana Menteri
UTD
20 Agustus 1996 - 21 Mei 1999
Kwassi Klutse, Perdana Menteri
RPT
21 Mei 1999 - 31 Agustus 2000
Eugene Koffi Adoboli, Perdana Menteri
RPT
31 Agustus 2000 - 29 Juni 2002
Agbeyome Kodjo, Perdana Menteri
RPT
29 Juni 2002 - 9 Juni 2005
Koffi Sama, Perdana Menteri
RPT
9 Juni 2005 - 20 September 2006
Edem Kodjo, Perdana Menteri
CPP
20 September 2006 - 3 Desember 2007
Yawovi Agboyibo, Perdana Menteri
CAR
3 Desember 2007 - 2008
Komlan Mally, Perdana Menteri
RPT
Gilbert Houngbo

Keterangan Mengenai Afiliasi Politik
o CFN - Coordination of New Forces
o CPP - Patriotic Pan-African Convergence
o CUT - Committee of Togolese Unity
o PTP - Togolese Progress Party
o RPT - Rally of the Togolese People
o UTD - Togolese Union for Democracy

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Togo
http://indonesian.cri.cn
http://news.bbc.co.uk/
http://id.tixik.com/c/-1/-222/?order=plus
www.kapanlagi.com/h/0000050140.html
id.wiki.detik.com/wiki/Togo
TIPS MERAWAT KOMPUTER


  1. Bersihkan motherboard & periferal lain(hardware) dari debu secara berkala. Untuk membersihkannya dapat kiga gunakan kuas halus ukuran kecil dan sedang. Setidaknya dua bulan sekali hal ini harus dilakukan. Buka casingnya terlebih dahulu kemudian bersihkan motherboard dan periferal lain (RAM, Video Card, Modem, Sound Card, CDR/CDRW/DVRW, TV Tuner) dengan sikat halus. Pada saat komputer tidak digunakan tutuplah komputer (monitor, CPU, keyboard/mouse) dengan cover sehingga debu tidak mudah masuk ke dalam komputer.
  2. Uninstall atau buang program yang tidak berguna. Ruang harddisk yang terlalu banyak tersita akan memperlambat proses read/write harddisk sehingga beban kerjanya akan lebih berat sehingga harddisk akan cepat rusak. Biasanya akan muncul warning juga space hardisk kita sudah penuh. System operasi windows sudah mendukung akan hal yang seperti ini.
  3. Bersihkan Recycle Bin secara rutin. Sebenarnya file/folder yang kita hapus tidak langsung hilang dari harddisk karena akan ditampung dahulu di Recycle Bin, namun ada beberapa jenis setingan yang bisa kita gunakan antara lain memberikan peringatan saat menghapus, hapus lalu simpan di tempat sementara atau hapus permanen. Untuk setingan yang hapus lalu disimpan ditempat penampungan ini dengan maksud agar suatu saat apabila Anda masih membutuhkannya dapat mengembalikan lagi. Recycle Bin yang sudah banyak juga akan menyita ruang harddisk yang dapat menyebabkan pembacaan harddisk jadi lelet. Caranya jalankan Windows Explorer >> klik Recycle Bin >> klik File >> klik Empty Recyle Bin. Atau Anda dapat menjalankan fungsi Disk Cleanup Caranya Klik Start >> Program >> Accessories >> System Tool >> Disk Cleanup >> kemudian pilih drive yg mau dibersihkan >> setelah itu centangilah opsi Recycle Bin kalau perlu centangi juga yg lain (seperti temporary file, temporary internet file), setelah klik OK.
  4. Install program antivirus dan update secara berkala. Untuk dapat mengenali virus/trojan2 baru sebaiknya update program antivirus secara berkala. Virus yang terlanjur menyebar di komputer dapat membuat Anda menginstall ulang komputer. Hal ini selain membutuhkan biaya juga akan menyebabkan harddisk Anda akan lebih cepat rusak dibanding apabila tidak sering diinstall ulang. Ada baiknya kita menonaktifakan sistem restore yaitu dengan cara klik kanan My Computer >> pilih System Restore >> lalu beri tanda centang pada cek box dengan keretangan Turn off System Restore on all drive.
  5. Tutup / close program yg tidak berguna Setiap program yg diload atau dijalankan membutuhkan memory (RAM) sehingga semakin banyak program yg dijalankan semakin banyak memory yg tersita. Hal ini selain dapat menyebabkan komputer berjalan lambat (lelet) juga beban kerja menjadi lebih berat yg akhirnya dapat memperpendek umur komponen/komputer.
  6. Pakailah UPS atau stavolt.Pakailah UPS untuk mengantisipasi listrik mati secara tiba-tiba yg dapat mengakibatkan kerusakan pada harddisk. Kalau terpaksa tidak ada UPS, pakailah Stavolt untuk mengantisipasi naik turunnya tegangan listrik.
  7. Aktifkan screensaver Selain bersifat estetis, screensaver mempunyai fungsi lain yg penting. Monitor CRT juga televisi menggunakan fosfor untuk menampilkan gambar. Kalau monitor menampilkan gambar yg sama untuk beberapa saat maka ada fosfor yang menyala terus menerus. Hal ini dapat mengakibatkan monitor bermasalah yaitu gambar menjadi redup/kurang jelas. Lain halnya jika monitor Anda adalah LCD, LED yg sudah dilengkapi dengan energy saving, maka screensaver tidak terlalu dibutuhkan lagi.Cara+ mengaktifkan screensaver dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya klik Start >> Control Panel >> Display >> klik tab screensaver, kemudian pilih sesuai selera Anda.
  8. Defrag harddisk secara berkala. Fungsi defrag adalah untuk menata dan mengurutkan file-file harddisk berdasarkan jenis file/data sedemikian rupa sehingga akan mempermudah proses read/write sehingga beban kerja akan lebih ringan yg akhirnya dapat memperpanjang umur harddisk. Caranya klik menu Start > Program > Accesories > System Tool > Disk DefragmenterSaat menjalankan fungsi ini tidak boleh ada program lain yg berjalan termasuk screensaver karena akan mengacaukan fungsi defrag ini. Untuk cara ini dianjurkan tidak terlalu sering,mengapa….? Defrag adalah proses pengaturan file pada hardisk. Untuk mengaturnya agar berada pada posisi track yang berdekatan maka dilakukan gesekan untuk memindahkan. Defrag yang terlalu sering akan menyebabkan kondisi piringan hardisk cepat rusak karena seringanya proses pengikisan.
  9. Ventilasi yang cukup Tempatkan monitor maupun CPU sedemikian rupa sehingga ventilasi udara dari dan ke monitor / CPU cukup lancar. Ventilasi yg kurang baik akan menyebabkan panas berlebihan sehingga komponen/rangkaian elektronik di dalamnya akan menjadi cepat panas sehingga dapat memperpendek umur komponen tsb. Oleh karena itu usahakan jarak antara monitor/CPU dengan dinding/tembok minimal 30 cm. Kalau perlu pasang kipas angin di dalam ruangan. Akan lebih baik lagi jika menggunakan AC, hmm tambah dingin.
  10. Jangan meletakkan Speacker Active terlalu dekat dengan monitorKarena medan magnet yang ada pada speacker tersebut akan mempengaruhi monitor yaitu warna monitor menjadi tidak rata atau belang-belang.
  11. Pasang kabel ground. Apabila casing nyetrum, ambil kabel dengan panjang seperlunya, ujung satu dihubungkan dengan badan CPU (pada casing) sedangkan ujung yg lain ditanam dalam tanah. Hal ini akan dapat menetralkan arus listrik yg “nyasar” sehingga dapat membuat komponen elektronik lebih awet.

Jumat, 08 April 2011

Cara Merawat Baterai laptop




Tips Merawat Baterai Laptop

Perkembangan teknologi memungkinkan kita untuk melakukan apapun dimanapun dengan adanya berbagai perangkat portable. Salah satunya Laptop, jadi sekarang kita tidak perlu hanya berdiam dirumah untuk mengerjakan tugas, browsing, main game atau hal apapun yang bisa dilakukan oleh komputer dekstop. Tapi ada satu kekurangan laptop yaitu mempunyai daya tahan baterai yang tidak bertahan lama. Jika kita memakai laptop dengan waktu lama dan sering dilakukan, maka secara otomatis daya tahan baterai tersebut akan berkurang, akibatnya kita harus membeli baterai laptop yang baru.


Nah untuk itu saya tadi habis jalan-jalan ke forum sebelah yang terkenal itu, saya menemukan tips yang menarik untuk merawat baterai laptop. Berikut ini tipsnya:

1. Jangan simpan laptop di atas kasur/ karpet/ sofa. Laptop butuh sirkulasi udara karena dia mengeluarkan panas. Kalau kita simpan di kasur, panasnya tidak akan keluar.

2. Gunakan cooling pad. Cooling pad bisa membantu meredam suhu laptop yang panas. Laptop dan baterai jadi tidak panas. Usahakan cari yang arah anginnya meniup dari bawah ke atas.. jangan arah anginnya ke bawah / menghisap udara.

3. Laptop zaman sekarang sudah canggih. Jadi, kalau misalnya lagi dicharge terus sampai penuh, dia bakal memutus arus dengan sendirinya. Jadi tidak perlu dicabut adaptornya.

4. kalau laptop tdk dipakai dalam waktu lama (misalnya seminggu) batere laptop sebaiknya disimpan saja. Simpan di dalam plastik kering, terus simpan di tempat yang sejuk. kalau bisa simpan pula beberapa silica gel untuk mencegah kelembaban.

5. Jangan simpan laptop atau batere laptop di dalam mobil yang terkena sinar matahari. Ini dapat mempengaruhi kinerja laptop.

6. Kalibrasi baterai laptop minimal sebulan sekali. Cara kalibrasi adalah pakai baterai laptop sampai kira-kira tersisa 10 – 15%, lalu charge sampe penuh. Hal ini akan menggerakkan seluruh sel-sel yang ada di dalam baterai, sehingga kondisinya selalu prima.

7. Baterai atau laptop jangan sampai terbentur apalagi terjatuh. Jangan juga disimpan/ditindih benda berat, karena akan rentan terhadap arus pendek/korslet sehingga menyebabkan overheating.

8. Jangan sampai kena air. Tahu sendiri akibatnya. Walaupun nantinya kering dan bisa dipakai lagi, jamur dan korosi akan menggerogoti fisik si baterai itu sendiri.

9. Selalu pakai baterai dan charger original. Tentu yang original lebih terjamin kualitasnya?

10. kalau lagi pakai laptop tanpa baterai, usahakan tegangan listrik di rumah kita stabil. Caranya adalah dengan pakai stabilizer. kalau tidak ada stabilizer, sebaiknya baterai dipasang aja. Harga baterai tidak sebanding dengan kerusakan laptop! lebih baik lagi pakai UPS. jadi saat tiba-tiba listrik mati, laptop masih hidup dan kita masih sempat shutdown.

11. kalau laptop sering di on-offkan , sebaiknya tidak usah dimatikan lebih baik tapi di mode sleep saja. Karena tenaga yang diperlukan pada saat laptop menyala itu lebih kecil dibandingkan waktu pertama menyalakan laptop.

12. Gunakan power management pada control panel. Set brightness di bawah 50%, jangan pakai screen saver aneh-aneh, pakai blank karena paling irit power, set waktunya juga agar tidak telalu lama. Set juga power jadi max battery.

Sumber: Kaskus


SNMPTN UNY Jogjakarta





SNMPTN

1. SNMPTN Jalur Undangan Prestasi Akademik

  • Diselenggarakan oleh Panitia SNMPTN Tahun 2011.
  • Penjaringan siswa unggulan dari masing-masing sekolah di seluruh Indonesia yang mempunyai kemampuan akademik sesuai dengan ketentuan SNMPTN 2011.
  • Proses seleksi mengikuti ketentuan yang berlaku dalam SNMPTN 2011.


2. SNMPTN Jalur Undangan Bidik Misi

  • Diselenggarakan oleh Panitia SNMPTN Tahun 2011.
  • Penjaringan siswa unggulan dari masing-masing sekolah di seluruh Indonesia yang mempunyai kemampuan akademik dan berasal dari keluarga tidak mampu, sesuai dengan ketentuan SNMPTN 2011.
  • Proses seleksi mengikuti ketentuan yang berlaku dalam SNMPTN 2011.
  • Kuota untuk Tahun Akademik 2011/2012 sebanyak 400 orang mahasiswa.
  • Memperoleh beasiswa pendidikan dan biaya hidup secara penuh dengan ketentuan seperti yang diatur oleh Direktorat Kelembagaan Ditjen Dikti Kemdiknas.

3. SNMPTN Jalur Ujian Tulis

  • Diselenggarakan oleh Panitia SNMPTN Tahun 2011.
  • Proses seleksi mengikuti ketentuan yang berlaku dalam SNMPTN 2011.
  • Beberapa prodi mensyaratkan ujian keterampilan.

Program Seleksi Mandiri S1 dan D3


1. Seleksi Mandiri S1

  • Memilih kelompok IPA, IPS, atau IPC sesuai dengan program studi yang diminati. Daftar program studi dan kelompok dapat dilihat pada Tabel 1.
  • Memilih dua program studi untuk Kelompok IPA atau IPS dan memilih tiga program studi untuk Kelompok IPC. Untuk kelompok IPC, pilihan terdiri dari dua program studi kelompok IPA dan satu program studi kelompok IPS atau dua program studi kelompok IPS dan satu program studi kelompok IPA.
  • Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 175.000,00 untuk kelompok IPA atau IPS, dan Rp 200.000,00 untuk Kelompok IPC. Pembayaran dilakukan melalui Bank Mandiri. Prosedur pembayaran dapat dilihat di situs PMB UNY http://pmb.uny.ac.id.
  • Melakukan login ke situs PMB UNY untuk mengisi formulir pendaftaran sesuai jadwal (Tabel 2).
  • Mengikuti tes tulis dan tes khusus (untuk prodi tertentu) sesuai jadwal. Materi tes tulis terdiri dari :
    1. Kelompok IPA meliputi Kemampuan Kuantitatif, Bahasa, dan IPA.
    2. Kelompok IPS meliputi Kemampuan Kuantitatif, Bahasa, dan IPS.
    3. Kelompok IPC meliputi Kemampuan Kuantitatif, Bahasa, IPA, dan IPS.


      Materi tes khusus berupa tes keterampilan dan untuk prodi di FIK ditambah tes kesehatan.

2. Seleksi Mandiri DIII

  • Memilih kelompok IPA, IPS sesuai dengan program studi yang diminati. Daftar program studi dan kelompok dapat dilihat pada Tabel 1.
  • Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 175.000,00 melalui Bank Mandiri. Prosedur pembayaran dapat dilihat di situs PMB UNY.
  • Melakukan login ke situs PMB UNY untuk mengisi formulir pendaftaran sesuai jadwal (Tabel 2).
  • Mengikuti tes tulis, dengan materi tes tulis:
    1. Kelompok IPA meliputi Kemampuan Kuantitatif, Bahasa, dan IPA.
    2. Kelompok IPS meliputi Kemampuan Kuantitatif, Bahasa, dan IPS





Universitas Negeri Yogyakarta © 2005-2010 by Webmaster UNY




Kamis, 15 April 2010

cara menggunakan ER_Mapper

PENGINDERAAN JAUH DIGITAL
Menggunakan ER Mapper 6.4





















Contact & Support :
Laboratorium Penginderaan Jauh dan
Sistem Informasi Geografis
Jurusan Pendidikan Geografi
FISE- Universitas Negeri Yogyakarta


Bab I
PendahuIuan
Pengolahan data citra dimulai pada tahun 1960-an untuk memproses citra dari satelit yang mengelilingi bumi. Pengolahan data citra dibuat dalam bentuk “disk to disk” dimana kita harus menuliskan spesifikasi file yang akan diolah, kemudian memilih tipe pemrosesan yang akan digunakan, kemudian menunggu komputer mengolah data tersebut serta menuliskan hasilnya ke dalam file baru (gambar 1). Jadi sampai final file terbentuk baru kita dapat melihat hasil yang diharapkan, tetapi bila hasilnya jauh dari yang kita harapkan, maka kita harus mengulangnya dari awal kembali. Sampai tahun 1980-an proses tersebut masih digunakan oleh beberapa produk pengolahan data citra.




gambar 1. Proses Pengolahan Data Citra Secara Tradisional

ER Mapper mengembangkan metode pengolahan citra terbaru dengan pendekatan yang interaktif, dimana kita dapat langsung melihat hasil dari setiap perlakuan terhadap citra pada monitor komputer. ER Mapper memberikan kemudahan dalam pengolahan data sehingga kita dapat mengkombinasikan berbagai operasi pengolahan citra dan hasilnya dapat langsung terlihat tanpa menunggu komputer menuliskannya menjadi file yang baru (gambar 2). Cara pengolahan ini dalam ER Mapper disebut Algoritma.




gambar 2. Pengolahan Citra Menggunakan ER Mapper
ER Mapper adalah perangkat lunak pengolahan data citra atau satelit (geographic image-processing product). ER Mapper dapat dijalankan pada workstation dengan sistem operasi UNIX dan komputer PC dengan Windows Operating System. Dengan ER Mapper kita dapat menampilkan dan mengolah data raster, menampilkan dan mengedit data vektor, dan menghubungkan dengan data dari sistem informasi geografik (SIG) , sistem manajemen basis data (database management) atau dengan sumber lainnya.
Pengolahan data citra merupakan suatu cara memanipulasi data citra atau mengolah suatu data citra menjadi suatu keluaran (output) yang sesuai dengan yang kita harapkan. Adapun cara pengolahan data citra itu sendiri melalui beberapa tahapan, sampai menjadi suatu keluaran yang diharapkan. Tujuan dari pengolahan citra adalah mempertajam data geografis dalam bentuk digital menjadi suatu tampilan yang lebih berarti bagi pengguna, dapat memberikan informasi kuantitatif suatu obyek, serta dapat memecahkan masalah.
Data digital disimpan dalam betuk barisan kotak kecil dua dimensi yang disebut pixels (picture elements). Masing-masing pixel mewakili suatu wilayah yang ada dipermukaan bumi. Struktur ini kadang juga disebut raster, sehingga data citra sering disebut juga data raster. Data raster tersusun oleh baris dan kolom dan setiap pixel pada data raster memiliki nilai digital .
Data yang didapat dari satelit umumnya terdiri beberapa bands (layers) yang mencakup wilayah yang sama. Masing-masing bands mencatat pantulan obyek dari permukaan bumi pada panjang gelombang yang berbeda. Data ini disebut juga multispectral data. Di dalam pengolahan citra, juga dilakukan penggabungan kombinasi antara beberapa band untuk mengekstraksi informasi dari obyek-obyek yang spesifik.
Pengolahan data citra adalah bagian penting untuk dapat menganalisa informasi kebumian melalui data satelit penginderaan jauh. Aplikasi-aplikasi yang dapat diterapkan melalui pengolahan data citra antara lain:
• pemantauan lingkungan
• manajemen dan perencanaan kota dan daerah urban
• manajemen sumber daya hutan
• eksplorasi mineral
• pertanian dan perkebunan
• manajemen sumber daya air
• manajemen sumber daya pesisir dan lautan
• oseanografi fisik
• eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi
ER Mapper menggunakan suatu konsep pengolahan data yang dinamakan algoritma, dimana algoritma memisahkan data citra dari tahapan-tahapan pengolahan citra (image processing). Tahapan-tahapan pengolahan citra dapaT disimpan dan diedit di dalam suatu file algoritma yang dapat digunakan untuk tahapan pengolahan data citra lainnya. Algoritma adalah rangkain tahap demi tahap pemrosesan atau perintah dalam ER Mapper yang digunakan untuk melakukan transformasi data asli dari hard disk sampai proses atau instruksinya selesai. Dengan Algoritma, kita dapat melihat hasil yang kita kerjakan di monitor, menyimpannya ke dalam media penyimpan (hard disk, dll), memanggil ulang, atau mengubahnya, setiap saat. Oleh karena Algoritma hanya berisi rangkaian proses, maka file dari algoritma ukurannya sangat kecil, hanya beberapa kilobyte sampai beberapa megabyte, tergantung besarnya proses yang kita lakukan, sehingga sangat menghemat ruang hard disk. Dan oleh karena file algoritma berukuran kecil, maka proses penayangan citra menjadi relatif lebih cepat. Hal ini membuat waktu pengolahan menjadi lebih cepat. Konsep Algoritma ini adalah salah satu keunggulan ER Mapper.. ER Mapper didesain khusus untuk pengolahan data masalah-masalah kebumian, penerapan ER Mapper juga meliputi industri-industri yang bergerak di bidang kebumian.
Pengolahan data citra digital memerlukan komputer untuk memanipulasi data citra yang disimpan dalam suatu format digital. Tujuan dari pengolahan data citra adalah untuk meningkatkan arti dari data geografik sehingga menjadi lebih bermanfaat,penuh dengan informasi dan pemecahan masalah bagi para pemakainya,
Suatu data citra digital tersimpan sebagai suatu susunan dua dimensi atau grid yang dinamakan sebagai pixel (picture elemen) dimana masing-masing pixel mewakili suatu area di permukaan bumi secara spasial (keruangan). Susunan dua dimensi atau grid ini dinamakan juga sebagai raster sehingga data citra sering juga dinamakan sebagai data raster. Data raster tersusun dalarn baris horisontal yang disebut lines dan kolom vertikal yang disebut sample.













Bab II
Feature ER Mapper
ER Mapper dan perangkat lunak pengolahan citra lainnya telah mengalami bermacam perkembangan atau evolusi. ER Mapper didesain agar dapat menyesuaikan dengan kemajuan perangkat keras dan sistem operasi yang ada saat ini. Banyak perangkat lunak pengolahan citra yang dikembangkan pada masa 1970-an tidak dapat lagi mengikuti kemajuan teknologi perangkat keras dan perangkat lunak saat ini, seperti masalah pengolahan citra yang interaktif dengan tampilan yang dinamis.
Ada beberapa kemajuan dari perangkat lunak pengolahan citra ER Mapper jika dibandingkan dengan perangkat lunak pengolahan citra yang terdahulu, yaitu :
1. Compression Wizard .




• Very fast decompression and viewing.
• Compress individual images or mosaic algorithms.
• No royalties or data licenses needed to create, use or distribute compressed images.
• Breakthrough technology (patent pending) utilizes single pass compression and decompression for low-memory footprint.
2. Support for large imagery files



ER Mapper supports full access and display of files of any size.There is no software limit placed on the number of images that can be mosaiced. Use the compression wizard to make it even easier to handle your large files. Hardware limitations may be imposed when performing certain functions based on your system configuration.
3. Dynamic links



Rather than import large amounts of data, link to it dynamically. Directly display, update and save external data from within ER Mapper. Dynamic links use the built-in ER Mapper PostScript engine to generate the highest quality output.
Create your own dynamic link or select one from the wide range of links included:
• Contours
• Points
• Points TIN
• Tables of data
• Geoimage
• Korean annotation (Unix only) • DXF
• DGN
• ARC/INFO
• Intrepid
• PostScript
• Symbols
4. Direct ARC/INFO® Support




Directly open, save, and edit ARC/INFO® coverages, including full attribute information. ER Mapper supports PC and Unix versions of ARC/INFO® workspaces, including float and double formats.
• Share vector data directly with ARC/INFO® and ArcView®
• Use the native ER Mapper editing tools to update coverages.
• Display multiple coverages within an algorithm
5. File Open/Save As





ER Mapper has long had the most extensive file import capability of any image processing product. ER Mapper 6.0 takes this capability to the next level, allowing you to directly read and write common imagery formats.
File Format Direct Read Direct Write
ER Mapper images and ER Mapper virtual images (datasets)
ER Mapper smart data algorithms
Universal Data Format (UDF) imagery
BMP files
JPEG files
TIFF (including GeoTIFF) files
ESRI BIL format (.HDR) and SPOTView format
Customizable to include your own formats
6. Supported import/export formats






ER Mapper has the largest range of import/export functions available. In addition to being able to directly read and write a number of image formats, ER Mapper can import the following formats. For file types not listed here, generic import functions are supplied. Some exploration formats are only available on the Unix platform












BAB III
GUI ER MAPPER
Pada bagian ini akan sedikit dijelaskan mengenai beberapa komponen utama pada tampilan (interface) ER Mapper. Hampir semua operasi menggunakan tombol pada mouse, dan hanya sedikit sekali yang dilakukan dengan mengetik pada keyboard.
1. Menggunakan Mouse
• Point, menempatkan pointer mouse pada suatu item (pilihan pada tampilan ER Mapper).
• Click, menempatkan pointer pada suatu item dan menekan tombol kiri mouse sekali, Double-Click(klik ganda) berarti menekannya dua kali.
• Drag, tekan tombol kiri mouse dan menahannya, lalu membawa pointer mause ke lokasi yang baru. Symbol pointer mouse akan berubah tergantung dari apa yang ditunjukkan oleh pointer tersebut:
memilih menu commands dan klik tombol; menunjukkan nilai digital atau koordinat pada citra.
menulis atau memilih text, atau merubah masukan angka.
memperbesar atau memperkecil tampilan citra atau
memilih jendela yang tidak aktif menjadi jendela aktif (current window)
menggeser citra pada jendela citra.
menggambar annotasi, membuat region, membuat obyek komposisi peta.
2. Menu Utama ER Mapper
Menu utama ER Mapper muncul langsung setelah kita membuka ER Mapper. Menu utama ini mempunyai dua komponen utama yaitu menu bar dan tombol toolbar (toolbar buttons):




Menu Utama ER Mapper
• Menu bar, tempat pilihan perintah yang akan digunakan pada pengolahan citra, untuk memilih perintah pada menu bar, klik nama pada menu bar, kemudian pilih perintah yang akan dijalankan.
• Tombol toolbars, tempat menampilkan pilihan perintah urnum secara cepat, untuk menjalankannya hanya klik pada tombol perintah yang diinginkan..
• Tool tips, untuk mengetahui fungsi tombol tersebut, letakkan pointer di atas tombol yang ingin diketahui, kemudian akan muncul kalimat (tool tips) yang memberitahukan fungsi tombol tersebut
ER Mapper terdiri dari 8 menu utama yaitu File, Edit, View, Toolbars, Process, Utilities, Windows dan Help. Untuk mengetahui fungsi dari menu-menu utama tersebut, berikut akan kita bahas sekilas. Jendela utama ER MAPPER akan secara otomatis menampilkan menu bar yang berisikan seluruh fungsi dan perintah pada ER MAPPER
1. Menu File
Menu File ini terdiri dari :





• New atau tombol , untuk membuka Image Window baru. Image Window merupakan jendela kosong untuk menampilkan data citra.
• Open atau tombol , untuk menampilkan File .ers atau .alg yang kita pilih ke dalam Image Window. Pada saat kita memilih menu File-Open akan muncul dialog box seperti gambar berikut :





• Tekan OK jika anda ingin menampilkan file yang terpilih dan menutup Dialog Box.
• Tekan Apply jika anda ingin menampilkan file yang terpilih dan tetap membuka Dialog Box tersebut.
• Tekan Cancel jika anda ingin membatalkan dan menutup Dialog Box
• Close, untuk menutup Image Window yang aktif.
• Save atau tombol , untuk menyimpan Algoritma yang kitabuat.
• Save As atau tombol , untuk menyimpan Algoritma yang kita buat ke dalam file baru.
• Save As Dataset atau tombol , untuk menyimpan file yang ada didalam Image Window ke dalam dataset baru, yang kemudian akan muncul dialog box seperti berikut ini:




• Page Setup, yang berfungsi untuk mengatur dan menentukan :Ukuran dan warna latar Hardcopy; Mengatur skala Hardcopy,
• Exit, yang berfungsi untuk keluar dan menutup program ER Mapper
2. Menu Edit
• Annotate Vector Layer : Menampilkan data vector
• Edit/Create Regions : Membuat dan melakukan editing pada data vector, perintah ini juga digunakan untuk membuat training area pada proses klasifikasi terbimbing (supervised classification)
• Edit ARC/INFO Coverage : Membuat dan melakukan editing pada data vektor yang berformat ARC/INFO Workspace.
• Edit Class Region Color and Name : Membuat dan melakukan perubahan nama atau warna pada kelas-kelas hasil proses klasifikasi. Hanya dapat digunakan pada data citra yang telah terklasifikasi.




3. Menu View
Beberapa perintah penting pada menu view adalah sebagai berikut:
• Algorithm : Membuka algorithm dialog box. Perintah dapat dipersingkat dengan menekan tombol.
• Quick Zoom : Memperbesar atau memperkecil tampilan citra. Perintah dapat dipersingkat dengan menekan tombol-tombol berikut
• Statistic : Menampilkan nilai –nilai statistic dari data citra
• Cell Value Profile : Menampilkan nilai piksel (Digital Number/DN) pada setiap band dalam data citra
• Cell Coordinat : Memberikan informasi mengenai letak geografis suatu obyek titik pada citra




4. Menu Toolbars
Menu Toolbars digunakan untuk menampilakan short-cut atau menu singkat yang ditampilkan dalam ikon-ikon untuk menjlankan perintah tertentu dalam kelompok bidang penggunaan tertentu seperti Forestry, Mineral, dan lain-lain yang tertera pada menu toolbars .



5. Menu Process
Menu Process berisi menu-menu pemrosesan didalam ER Mapper seperti klasifikasi, konversi data, rektifikasi, penghitungan nilai statistic dan laimnya.Beberapa perintah penting pada menu process adalah sebagai berikut :
• Raster Cell to Vektor Polygons : Merubah data raster menjadi bentuk data vector
• Calculate Statistic : Menghitung nilai-nilai statistic data citra
• Classification : Menjalankan proses klasifikasi data citra satelit
• Rectification : Melakukan koreksi geometric





6. Menu Utilities
Didalam menu utilities anda dapat melakukan proses import data dari sumber/format lain dan eksport data dari ER Mapper kedalam format lainnya, managemen file dan lainnya.Hal penting pada menu Utilities adalah :
• Import : Mengkonversi format data citra menjadi format ER Mapper
• Export : Mengkonversi data citra dari format ER Mapper menjadi data dalam format yang lain.








7. Menu Windows
Menu Windows digunakan untuk membuat windows baru dengan cara Klik menu Windows, pilih New Windows dan juga menampilkan nama-nama window lainya yang sedang dibuka dalam ER Mapper


8. Menu Help
Menu Help berisi informasi-informasi bantuan yang dibutuhkan user seperti tutorial, konsep ER Mapper dan lainnya.





Kotak Dialog ER Mapper
Pada saat memilih suatu perintah atau menekan tombol pada toolbar, sering muncul kotak dialog yang mengharuskan kita untuk mengisi pada kotak kosong atau memilih file, atau memilih option yang disediakan ER Mapper dengan meng-klik Scrool bar (panah geser).
Ketika kita memilih untuk membuka atau menyimpan dataset, algoritma atau file lain, ER Mapper akan menampilkan kotak dialog pemilihan file. Jendela utama menampilkan daftar direktori atau file-file pada direktori aktif. Pada menu kotak dialog pemilihan file diatas, memiliki fungsi:
• History Menu, merubah direktory aktif, berisi daftar direktori yang telah dibuka, berurutan dari yang baru dibuka paling atas dan yang lama sebelah bawah.
• Special Menu, untuk merubah direktori awal (home direktori), atau untuk menandakan atau tidak direktori.
• View Menu, Mengurutkan isi direkori berdasarkan nama, tanggal dirubah atau tanggal dibuat.
• Volumes Menu, Untuk mengakses ke disk drive.
• Directories Menu, Untuk merubah direktori yang dibuat sistem manager komputer.















Bab IV
PERSIAPAN PRAKTIKUM PJ
Hal yang diperlukan untuk melakukan praktikum PJ yang pertama kali dilakukan adalah :
1. Perangkat Keras yang berupa 1 unit PC dengan spesifikasi :
- Processor : Intel Celeron 2.26 GHz
- Mainboard : MSI chipshet Intel 845
- RAM : Kingston 256 MB/PC 3200
- Harddisk : Seagate 80 GB/7200 rpm Baracuda
- VGA : GForce 4 128 MB/64bit
- Monitor : Samsung 15” digital resolusi 1024 X 768
- Power Supplay : Simbadda 350 watt
- Optical : CD RW Samsung 52 X 32 X 52

2. Perangkat Lunak
- Sistem Operasi : Windows XP Service Pack 2
- Remote Sensing Software : ER Mapper 6.4

3. Membuat Folder Kerja
Membuat folder kerjadimaksudkan agar dapat memudahkan dalam melakukan pekerjaan baik melakukan penyimpanan maupun pemnaggilan data yang telah dikerjakan. Caranya sebagai berikut :
Dari windows Explorer piih drive yang akan dipakai misalkan drive D
Pilih File – New Folder – PRAKTIKUM PJ








Membuat Folder dengan nama mahasiswa didalamfoleder PRAKTIKUM PJ (ex : satya_baja_hitam)







4. Pengcopyan Data Citra
MEnngcopy file contoh-contoh citra dari ER Mapper dengan cara masuk ke folder “C:\FLEXLM\ERMAPPER64\examples” dan mengcopy seluruh filenya ke drive “D:\PRAKTIKUM PJ\satya_baja_hitam” sehingga isi dari folder nya terkopy semua.














Bab V
PRAKTIKUM PJ DIGITAL

1. Membuka prpgram ER Mapper 6.4
Ada 2 cara membuka ER Mapper 6.4 yaitu :
Dari shortcut menu yang ada di desktop klik icon
Dari “Start - All program – ER Mapper - ER Mapper 6.4”









Setelah itu akan muncul tampilan sebagai berikut :








2. Citra Band Tunggal
Dari menu bar klik File pilih New untuk membuat tampilan kosong atau klik . Suatu window citra kosong akan ditampikan di sudut kiri atas layer komputer dan pada bagian atas terdapat tulisan “ Algoritm Not Yet Saved”


Pada kotak tersebut belum ada image karena belum ada file image yang dimasukkan. Tanda *** menunjukkan window/kotak tersebut sedang aktif atau sedang dipilih, angka 1 menunjukkan bahwa kotak window tersebut adalah kotak pertama yang dibuka, angka ini akan bertambah sebanyak jumlah kotak window yang dibuka sehingga bila kita membuka kotak ke 3 maka akan muncul angka 3 pada tampilan tersebut. Tulisan “ Algoritm Not Yet Saved” berarti tampilan window yang kita buka belum disimpan dalam file algoritma (.alg).

Dari menubar pilih View / Algorithm, atau dari toolbar klik



Dari menu Algorithm pada gambar diatas klik dibawah kata No Dataset untuk meload Data yang akan ditampilkan.
Akan keluar tampilan baru, kotak Raster Dataset





Kemudian pilih Data yang akan ditampilkan (ex: D:\PRAKTIKUM PJ\satya_baja_hitam\examples\Shared_Data\Landsat_TM_year_1985.ers) kemudian pilih berarti kita memilih file yang di highlight dan kotak Raster Dataset akan menutup berarti kita memilih file yang di highlight dan kotak Raster Dataset tidak akan menutup. Kalimat this layer only yang mengikuti kata OK dan Apply menunjukkan bahwa perintah tersebut hanya berpengaruh pada layer yang dipilih saja tetapi tidak untuk semua layer.
adalah perintah untuk memperlihatkan informasi dari file dataset yang akan kita pilih, akan tampil kotak seperti berikut

a.





Setelah data file kita pilih, kemudian kita menentukan layer apa yang akan menampilkan data tersebut. Bila sudah terpilih, maka nama file akan terlihat pada kotak Algorithm





menunjukkan layer pada file terpilih yang aktif dan akan ditampilkan pada layer tersebut (contoh diatas menunjukan band 1 sebagai layer terpilih). Dengan mengklik tombol panah kebawah disamping tulisan B1:Band1 maka akan tampak seluruh layer yang ada pada file tersebut. Setelah itu cobalah ganti – ganti band dan warnanya dan simpanlah sebagai file “latihan1” dengan cara File – Save As - D:\PRAKTIKUM PJ\satya_baja_hitam\latihan1.alg







3. Citra Komposit
Dari menu bar klik File pilih New untuk membuat tampilan kosong atau klik .
Dari menubar pilih View / Algorithm, atau dari toolbar klik
Dari menu Algorithm pada gambar diatas klik dibawah kata No Dataset untuk meload Data yang akan ditampilkan.
Akan keluar tampilan baru, kotak Raster Dataset Kemudian pilih Data yang akan ditampilkan (ex: D:\PRAKTIKUM PJ\satya_baja_hitam\examples\Shared_Data\Landsat_TM_year_1985.ers) kemdian pilih
Akan keluar tampilan baru, kotak Raster Dataset Kemudian pilih Data yang akan ditampilkan (ex: D:\PRAKTIKUM PJ\satya_baja_hitam\examples\Shared_Data\Landsat_TM_year_1985.ers) kemudian pilih
Dalam menu yang ada di dalam Algorithm Window, klik tab Surface dan gantilah Color Mode-nya menjadi Red Green Blue.
Klik Duplicate dua kali untuk membuat dua baris yang sama dengan baris dataset yang pertama. Sekarang terdapat tiga buah baris dari dataset yang sama dalam kontrol baris Pseudocolor.
Pada baris pertama ganti Pseudo dengan mengklik kanan baris yang dimaksud dan pilih Red, kemudian pilih band/saluran yang diinginkan pada Select a Band, misal band 4.
Pada baris kedua lakukan hal yang sama seperti diatas dan ganti Pseudo dengan Green, pilih band yang diinginkan, misal band 3.
Pada baris yang ketiga ganti Pseudo dengan Blue dan pilih band yang diinginkan, misal band 2.














Cara lain untuk membuat citra komposit adalah melalui Toolbar Forestry dan klik icon Create RGB Algorithm.
Isikan dataset citra yang akan dibuat RGB-nya, lalu klik OK.
Citra komposit akan terbentuk biasanya dengan kombinasi band 321, untuk mengubahnya buka Algorithm Window, dan ubah kombinasinya.
Simpanlah sebagai file “latihan2” dengan cara File – Save As - D:\PRAKTIKUM PJ\satya_baja_hitam\latihan2.alg
4. Penajaman Citra
Buatlah citra komposit baru dengan langkah-langkah seperti di atas.
Untuk mempertajam kenampakan citra pada Algorithm Window klik Edit Transform Limits yang menggunakan teknik transformasi . Menu transform akan ditampilkan yang berisi histogram algortima dataset.
Klik kotak dan pilihlah Limits to actual kemudian pilihlah Autoclip Transform.

Klik kotak dan lakukan seperti di atas
Klik kotak dan lakukan seperti di atas
Sehingga kenampakan citra seperti dibawah ini dan simpan sebgai “latihan3” :










5. Menampilkan Jarak dan Lokasi
Dari menu bar pilih View – Cell Coordinate kemudiaan set pointa ke dalam citra dan klik sembarang titik dalam citra. Kolom jarak pada satuan imperial, metrik, dan dataset dibuat dengan nilai kosong.
Tiga kolom dibawah dari Cell Coordinate dialog menunjukan jarak antara titik – titik dimana kita pertama kali menggeser ikon mouse dan titik dimana kita letakkan. Jarak yang ditunjukkan adalah sebagai jarak dalam satuan imperial (kaki dan miles). Jarak dalam satuan metrik (meter dan kilometer), dan jarak antar dataset (nomor piksel dalam sumbu X dan Y).
Klik ikon Close pada kotak dialog Cell Coordinates untuk menutup.





6. Menampilkan Harga Data Citra
Dari menu bar pilih View – Cell Values Profile kemudiaan setelah kotak Cell Values Profile muncul. Geser mouse ke dekat layer. Kotak dialog ini akan memunculkan tiga layer, dimana semuanya akan bisa dimatikan kapan saja.








Pada ketetapan awal, pilihan Values sudah dipilih. (jika ini sudah dirubah, aktifkan ikon Values dan matikan ikon Signatures dan Neighbors).
Pada pilihan menu utama, klik ikon Set Pointer mode Set Pointer mode mengajari kita menggunakan mouse pointer melihat nilai dari data. (Fungsi lain dari mouse ini adalah untuk penggunaan fungsi zoom dan pan)
Posisikan pointer didalam layer dan geserkan mouse pointer didalam citra (atau klik sembarang pixel). Cell Values Profile menunjukan nilai data dari tujuh band dalam citra landsat untuk lokasi pixel sekarang dalam citra. Nilai data sekarang adalah secara perlahan ujung bawah edge pada kotak dialog untuk membuat lebih besar dan terang).


7. Membuat Geolinking
Geolinking sangat berguna untuk visualisasi dari area geografik yang sama dengan tipe image yang berbeda atau algorithm pemrosesan yang berbeda, dan banyak aplikasi lain. Beberapa macam geolinking yang tersedia dalam ER Mapper:
Window Link dari dua atau lebih window citra untuk memperlihatkan cakupan geografis yang sama. Zooming atau Panning dalam satu window akan menyebabkan operasi yang sama pada window lain yang terhubung.
Screen Link window citra dengan sebuah citra “master” yang berfungsi sebagai sebuah lembaran peta virtual pada layar. Window yang terhubung akan memperlihatkan cakupan geografis dari citra-citra tersebut secara relatif terhadap window master
Overview Zoom Link antara window citra dengan sebuah control window “master”. Membuat sebuah kotak zoom pada control window menyebabkan window-window menge-zoom ke area yang didefinisikan.
Overview Roam Link antara window citra dengan sebuah kontrol window “mater”. citra pada window kepada satu “master” window kontrol. Menge-drag mouse pada control window mnyebabkan window untuk menge-pan (atau roam) sehingga posisi titik pusat sama dengan posisi mouse pada kontrol window.

Dari menubar pilih View / Algorithm, atau dari toolbar klik
Dari menu Algorithm pada gambar diatas klik dibawah kata No Dataset untuk meload Data yang akan ditampilkan.
Akan keluar tampilan baru, kotak Raster Dataset Kemudian pilih Data yang akan ditampilkan (ex: D:\PRAKTIKUM PJ\satya_baja_hitam\examples\Shared_Data\latihan3.ers) kemdian pilih
Akan keluar tampilan baru, kotak Raster Dataset Kemudian pilih Data yang akan ditampilkan (ex: D:\PRAKTIKUM PJ\satya_baja_hitam\examples\Shared_Data\ latihan3.ers) kemudian pilih
Dari menu bar pilih File Open
Dari menu open algoritm pilih direktori D:\PRAKTIKUM PJ\satya_baja_hitam\examples\Shared_Data\latihan3.ers
Dari menu bar klik “Copy Windows and Algoritm” untuk menduplikasi citra, geser citra hasil duplikasi ke kanan dan dibuat lebih kecil dengan menggeser mouse
Dari menu bar pilih View kemudian “Geoposition”
Dari menu “Algoritm Geoposition Extent” click “Geolink”
Dari menu “Geolink mode” klik “overview roam”
Klik mouse ke window citra sebelah kiri dan mengaktifkannya
Klik Apply. Menu “Algoritm Geoposition Extent” tetap mucul di layer monoitor dadan di atas window aktif terdaoat tulisan “overview roam geolink”
Klik dan atur posisi mouse di window sebelah kiri untuk mendapatkan “geolinking” di window sebelah kanan.
Aktifkan window sebelahkanan dengan menklikkan mouse ke dalam window citra.
Pada menu “Algoritm Geoposition Extent” ubah harga daset cell per pixel menjadi 0.5, Windt in pixel menjadi 512 dan height in pixel menjadi512
Klik applay
Aktifkan window sebelah kiri dengan mengklikkan mouse dalam window citra
Atur posisi mouse untuk menjalankan fungsi roaming dengan hasil “geolinking” terlihat di window sebelah kanan

























DAFTAR PUSTAKA

http://www.ermapper.com
http://erg.usgs.gov/isb/pubs/gis_poster/)
http://adarmawan.tripod.com/documents/ERMapperTutorial.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Server)
http://id.wikipedia.org/wiki/UNIX).
http://id.wikipedia.org/wiki/Windows).
http://id.wikipedia.org/wiki/Unit_Pemrosesan_Sentral).
http://id.wikipedia.org/wiki/Perangkat_keras_komputer).
http://id.wikipedia.org/wiki/VGA).
http://wiki.linux.or.id/Sistem_operasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Windows_XP#Windows_XP_ Professional )

Rabu, 13 Januari 2010

BAB I
PENGANTAR

A. Kedudukan Kerja lapangan dalam Kurikulum Geografi
Tercapainya tujuan pembelajaran salah satunya ditentukan oleh bagaimana kualitas proses pembelajarannya. Salah satu cara agar tujuan itu tercapai adalah dengan penggunaan metode yang tepat. Hal ini sesuai dengan pendapat Syaiful Bahri Djamari dan Aswan Zain (1997: 85) yang menyatakan bahwa metode merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan. Metode dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan pembelajaran agar dapat masuk dalam long term memory, pernah dinyatakan Sutcliffe (2002: 1), ”I hear I forget; I see I remember; I do and I understand”. Metode merupakan aspek yang dapat memperlancar jalan pembelajaran menuju tujuan yang telah dirumuskan.
Penggunaan metode yang tepat akan membantu dalam mencapai tujuan pembelajaran dan memotivasi mahasiswa untuk mengikuti kuliah secara bersungguh-sungguh dengan suasana yang menyenangkan. Banyak metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran geografi. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajarani geografi di bangku kuliah masih mengandalkan metode ceramah yang dimulai dari memberikan pengantar mengenai materi yang akan disampaikan kemudian pemberian informasi secara lisan tentang materi pelajaran, sehingga kedudukan dosen sangat dominan. Hal tersebut membuat pelajaran hanya berjalan satu arah, dimana mahasiswa hanya pasif mendengarkan, mencatat kemudian menghafalkan. Suasana tersebut akan menimbulkan kejenuhan dan kurang menarik perhatian mahasiswa dalam pembelajaran. Mahasiswa menjadi kurang berminat untuk mengikuti kuliah dan partisipasi mahasiswa dalam proses pembelajaran juga menjadi rendah.
Metode pembelajaran sebenarnya merupakan salah satu strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran menurut Martinis Yamin (2005) mencakup strategi kognisi, strategi merancang tujuan instruksional, strategi memilih metode pembelajaran, strategi memotivasi siswa, strategi membelajarkan siswa, srategi penerapan starndar kompetensi, dan strategi penilaian.
Praktik Kuliah lapangan (PKL) atau field study dan ada yang menyebutnya outdoor study dalam geografi merupakan salah strategi pembelajaran disamping pembelajaran dalam ruang (indoor study). Studi lapangan merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan dalam studi geografi. Oleh karena itu dalam kurikulum Program Studi Pendidikan Geografi FISE UNY, study lapangan menjadi mata kuliah wajib. Study lapangan dalam sejarah kurikulum Program Studi Pendidikan Geografi mengalami perubahan nama, antara lain pada Kurikulum 1984 bernama Praktik lapangan Geografi (PLG), pada kurikulum 1994 menjadi Kuliah Kerja lapangan, dan pada Kurikulum 2000 dan 2002 menjadi Praktik Kuliah Lapangan (PKL).
PKL terbagi menjadi 3 macam PKL, yakni PKL Geografi Dasar, PKL Geografi Sosial Ekonomi, dan PKL Geografi Terapan masing-masing mempunyai bobot 1 SKS. PKL Geografi dasar dilaksanakan oleh mahasiswa semester 2, PKL Geografi Sosial Ekonomi ditempuh oleh mahasiswa semester 4 dan PKL Geografi Terapan dilaksanakan oleh mahasiswa semester enam.

B. Urgensi dan Tujuan Kerja lapangan
Studi lapangan dalam perspektif kurikulum berbasis kompetensi (KBK) merupakan upaya kontekstualisasi objek kajian geografi, mendekatkan teori dengan kenyataan di lapangan, dan melatih mahasiswa untuk melakukan pemecahan masalah dengan mengaplikasikan berbagai alternatif teori yang telah dipelajari di bangku kuliah. Studi lapangan juga memungkinkan dosen untuk menerapkan berbagai strategi pembelajaran, sehingga berbagai kompetensi dasar yang diamanatkan kurikulum georafi dapat tercapai secara optimal.
Kerja lapangan merupakan unsur yang sangat penting dalam kurikulum geografi, karena kerja lapangan merupakan hal yang sangat mendasar bagi geografer untuk memahami dunia. Menurut Sauer sebagaimana dikutip Rice and Bulman, (2001) latihan dasar bagai seorang geografer adalah dengan mendatangi objek yang hendak dipelajari dimanpun yang memungkinkan dengan melakukan studi lapangan. Menurut Rice dan Bulman (2001) kerja lapangan mempunyai nilai penting sebagai berikut:
1. Memperkuat aspek-aspek yang telah dipelajari dari pembelajaran berbasis kelas
2. Menumbuhkan ide-ide baru dan mempraktikkan kemampuan-kemampuan baru bagi peserta didik
3. Kontekstualisasi objek geografi dengan kehidupan peserta didik secara nyata.
4. Mahasiswa dapat menghubungkan antara konsep kognitif dengan realitas objek
5. Melatih mahasiswa untuk menerapkan metodologi penelitian geografi
6. Melatih mahasiswa untuk menghadapi berbagai permasalahan dan mengajukan alternatif soslusi berdasarkan ilmu geografi
7. Mempersempit kesenjangan antara retorika teori dengan kenyataan
8. Tujuan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dapat tercapai secara efektif (Marotz and Rusndstrom, 1986; McEwen, 1996; Rice and Bulman, 2001)
9. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman melakukan penelitian secara original
10. Berpengaruh secara positif terhadap pembentukan sikap mahasiswa ke arah konsep lingkungan, lebih termotivasi, dan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Studi lapangan juga memungkinkan guru dapat secara leluasa melaksanakan strategi pembelajaran dengan kerangka kerja yang terukur dan terarah. Suatu kerangka konseptual untuk studi lapangan dengan tingkatan aktivitas memungkinkan 3 pendekatan studi lapangan secara inter-linked, yakni observasi, investigasi, dan inquiry. Pendekatan-pendekatan tersebut dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dari sekedar diarahkan dosen, kualitatif, dan preskriptif menjadi diarahkan mahasiswa, interaktif, dan open-ended. Untuk dapat memahami kerangka kerja dengan ketiga pendekatan tersebut perhatikan tabel 1 berikut.

Tabel 1. Kerangkakerja untuk mengkonduksi kerja lapangan
Observasi Investigasi Inquiry
Jenis aktivitas melihat dan mengamati Mempelajari medan Discovery lapangan
melihat dan mendengar Pengukuran lapangan Mengajukan hipotesis
Wisata terbimbing Penyelidikan Menguji hipotesis
Demonstrasi lapangan Menguji model Pemecahan masalah
Karakteristik Transmisi pasif aktif Interaktif
Terpusat pada guru Dipimpin guru/dosen, berpusat pada mahasiswa Berpusat pada mahasiswa
Interpretif
Fokus khusus sistematis Open-ended
Kualitatif Kuantitatif (berorientasi data) Kualitatif dan Kuantitatif
Berorientasi observasi Berorientasi pengukuran Berorientasi hasil (dampak)
Berbasis informasi Berbasis aktivitas Berbasis discovery (interpretif)
Diadaptasi dari Bland et al, 1996

Adapun tujuan tujuan kerja lapangan geografi menurut Kent, M. et al sebagaimana dimodifikasi oleh Rice and Bulman (2001) adalah sebagai berikut:
1. Tujuan spesifik-subjek:
a. Mengajarkan metode penelitian dan teknik-teknik lapangan secara khusus
b. Menggunakan data eksperimental untuk memecahkan masalah-masalah khusus
c. Mendemonstrasikan teori dalam praktik
d. Menanamkan kesadaran mengenai tempat-tempat dan budaya-budaya lain
e. Menerangkan kepada pelajar tentang berbagai variasi pendekatan dalam suatu disiplin ilmu
f. Melatih mahasiswa untuk melakukan penelitian secara independen
g. Menyediakan material nyata dan konteks geografis
h. Mengasah kemampuan analisis dan interpretasi
i. Mengajarkan mahasiswa untuk mengobservasi, mengukur, dan merekam.
2. Keahlian yang dapat ditransfer
a. Menugaskan mahasiswa untuk menajukan pertanyaan dan mengidentifikasi masalah
b. Menstimulasi berpikir independen
c. Memotivasi dan mengajarkan mahasiswa untuk menjadi pembelajar self-directed
d. Mempertajam kemampuan mahasisiwa untuk mempresentasikan dan mengkomunikasikan gagasannya
e. Mengembangkan kemampuan kerja kelompok
f. Mengembangkan kemampuan kepemimpnan
g. Membangun kesadaran tentang kesejajaran antara kemampuan yang dipewrlukan dalam kerja lapangan dan pekerjaan di dunia nyata
3. Kemampuan sosialisasi dan pengembangan kepribadian
a. Menstimulasi dan mengasah antusiasme untuk belajar
b. Mengembangkan rasa sayang terhadap lingkungan
c. Memperkuat dan mengemangkan integrasi sosial antar mahasiswa
d. Memperkokoh relasi mahasiswa dengan dosen/karyawan

C. Standar Kompetensi PKL
Kompetensi secara definitif adalah kemampuan dasar yang dapat dilakukan peserta didik pada tahap pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Kemampuan dasar ini dijadikan sebagai landasan melakukan proses pembelajaran dan penilaian. Kompetensi merupakan tarjet, sasaran, standar dalam menyampaiakan materi pelajaran yang penekanannya adalah tercapainya tujuan (Matinis Yamin, 2005). Standar kompetensi PKL Geografi Sosial Ekonomi mencakup penerapkan pendekatan geografi untuk menganalisis dan mensitesis keterkaitan 3 ranah, yakni lingkungan perdesaan (rural environment), pengembangan keahlian (skills development), dan lingkungan kota (urban environment). Dalam hal ini tim dosen pembina PKL dapat mengembangkan kompetensi yang telah dirumuskan dalam kurikulum.
Sebagai contoh untuk masing-masing aspek dapat disebut disini. Aspek lingkungan perdesaan antara lain mencakup kepariwisataan versus preserrvasi sejarah/budaya potensi konflik), pemetaan penggunaan lahan (asosiasinya dengan kemiringan, geologi, dll), hubungan antara berbagai variabel sosial ekonomi (pendapatan, kemiskinan, pengangguran, ketenagakerjaan dengan faktor fisiografis). Aspek pengembangan keahlian, antara lain penilaian dampak lingkungan, membaca data tabulasi tentang penduduk, teknik mengeksplorasi masalah-masalah sosial ekonomi yang terkait dengan kondisi geografis, kemampuan melakukan analisis msalah sosial ekonomi penduduk suatu tempat. Aspek lingkungan perkotaan antara lain menganalisis permukiman (struktur dan perubahan, pengelompokan pusat-pusat aktivitas bisnis, hirarkhi nilai-nilai lahan. Menilai planning perkotaan dengan realitas, menilai dan memetakan perubahan penggunaan lahan kota, menganalisis permasalahan sosial ekonomi penduduk kota pada berbagai lokasi secara hirarkhi dari pusat kota sampai daerah pinggiran.
Kompetensi minimal yang perlu dimiliki mahasiswa peserta PKL adalah mengidentifikasi masalah sosial ekonomi penduduk yang berkaitan dengan aspek geografis, memilah-milah masalah-masalah yang ada berdasarkan karakteristik disiplin ilmu geografi, menentukan cara pengumpulan data, mengorganisasikan data, menganalisis data, menyajikan data secara manual maupun digital dalam bentuk numerik maupun display peta, memberikan alternatif pemecahan masalah berdasarkan pendekatan ilmu geografi.

D. Proses Studi lapangan
Untuk dapat melakukan kerja lapangan secara baik dengan harapan tujuannya dapat tercapai maka diperlukan proses yang sistematis dan terencana. Proses kerja lapangan menurut Blin et al (dalam Rice and Bulman, 2001) mencakup langkah sebagaimana tertera pada gambar berikut.








BAB II
BAB II
DESAIN DAN RENCANA KERJA LAPANGAN

A. Pendesainan Kerja lapangan
Untuk dapat melakukan kerja lapangan dengan baik diperlukan perencanaan yang matang. Penyusunan desain, rencana, dan implementasinya di lapangan memerlukan akurasi yang tinggi agar tidak terjadi kekeliruan yang dapat berakibat pada tidak tercapainya tujuan kerja lapangan secara optimal dan keselematan kerja yang tidak terjamin.
Tahap-tahap kerja lapangan mencakup: (1) pendesainan kerja lapangan, mencakup: seleksi aktivitas, seleksi lokasi, Inklusivisasi: kerja lapangan untuk semua mahasiswa dengan kebutuhan khusus; (2) Perencanaan kerja lapangan mencakup: persiapan dokumen, persiapan lokasi, dan pembimbingan dan pengarahan; (3) Melakukan kerja lapangan meliputi aktivitas: pengumpulan data, persiapan buku catatan lapangan dan sheet data, dan peralatan lapangan; (4) analisis data dan presentasi hasil kerja lapangan; dan (5) penilaian.
Dosen perlu memaparkan pentingnya strategi pembelajaran dengan mengadakan kerja lapangan untuk mempertajam pembelajaran, pendidik harus memilih jenis kerja lapangan apa yang hendak diselenggarakan. Dengan asumsi bahwa kerja lapangan yang diselenggarakan dalam konteks mencapai tujuan pembelajaran, maka pendidikan harus secara jelas mendefinisikan dan menunjukkan bagaimana tujuan-tujuan kerja lapangan berkaitan dengan tujuan pembelajaran di ruang kelas. Jenis kerja lapangan tergantung pada level bekal pemahaman dan keahlian mahasiswa (lihat tabel 1). Pada PKL Geografi dasar misalnya tidak perlu sampai pada analisis statistik inferensial. Pada PKL Geografi Fisik sudah mulai dilakukan analisis korelasi antara kondisi fisik wilayah dengan kenampakan bentang budaya yang ada di wilayah tersebut.
B. Pemilihan Aktivitas
Aktivitas yang akan dilakukan oleh mahasiswa dipilih dan ditetapkan berdasarkan metode penelitian yang akan dilakukan. Metode penelitian yang mengehendaki mahasiswa untuk melakukan wawancara, maka aktivitas utama mahasiswa adalah serangkaian kegiatan yang berkaiatan dengan wawancara, yakni dari wawancara, koding, editing, tabulating, dan analisis data. Bila kegiatannya berupa observasi, maka mahasiswa dipersiapkan untuk melakukan aktivitas observasi dengan tingkatan yang diseusikan dengan pokok maslah yang hendak dicari jawabannnya, apakah kegiatan cukup dengan observasi (lihat, amati, dengar), atau perlu dengan investigasi (mengukur, menyelidiki, menguji) dan inquiry (penemuan, menyusun dan menguji hipotesis, dan memecahkan masalah).
Ketiga aktivitas tersebut memiliki kadar keaktifan dan karakteristik yang berbeda oleh karena itu perlu didisain secara akurat. Pertimbangan dalam pemilihan aktivitas didasarkan pada jenis masalah yang akan diteliti, disain pembelajaran (pola interaksi dosen dan mahasiswa), jenis data yang akan dikumpulkan (kualitatif atau kuantitatif), basis (berbasis informasi, aktivitas, atau inpretatif), dan orientasi (pengamatan, pengukuran, atau outcome/ dampak).
C. Pemilihan Lokasi
Lokasi untuk kegiatan KKL ini ditentukan berdasarkan pertimbangan keberadaan gejala sosial ekonomi yang sesuai dengan tema penelitian (KKL). Kekeliruan yang acapkali terjadi adalah menentukan alternatif daerahnya lebih dahulu kemudian baru dicari masalahnya.
Untuk keperluan latihan penelitian bagi mahasiswa, maka sebaiknya dicari daerah dengan kondisi gejala yang menonjol, sehingga mahasiswa lebih tertarik dan dengan mudah membaca gejala tersebut berdasarkan kacamata geografi. Disamping itu perlu mempertimbangkan tingkat kemudahan dalam menjangkau daerah tersebut, sehingga meskipun daerah tersebut secara ilmu geografi memiliki gejala yang representatif tetapi bila sulit dijangkau maka perlu dicari alternatif daerh lainnya. Secara sederhana pemilihan lokasi untuk KKL sosial ekonomi ini didasarkan faktor-faktor berikut:
1. Kesesuaian lokasi dengan tema KKL
2. Kenampakan gejala menonjol
3. Lokasi mudah dijangkau
4. Aman untuk didatangi
5. Relatif murah biaya untuk mendatanginya
6. Ketersediaan data awal tentang lokasi tersebut
Suatu contoh alternatif lokasi yang mencerminkan syarat-syarat di atas, antara lain:
1. Daerah Dieng (Wonosobo)
Daerah dengan fenomena mata pencahariaan penduduk dan karakteristik demografisnya yang khas sebagai wujud interaksi dengan kondisi fisiografis. Lereng pegunungan dengan suhu yang cukup dingin dan kondisi tanah yang mendukung (Jika anda melakukan kegiatan di daerah ini, ukurlah suhunya dan telitilah jenis tanah dan unsur hara yang dikandungnya) terjadi fenomena mata pencaharian penduduk dalam bidang pertanian kentang. Pembudidayaan tanaman kentang ternyata dapat mendongkrak tingkat ekonomi penduduk. Pengembangan kawasan hutan menjadi lahan budidaya kentang menyebabkan terjadi kerusakan lahan yang luar biasa, sehingga perlu dilakukan usaha konservasi.
2. Daerah Kampung Laut dan sekitarnya, Cilacap.
Daerah tersebut memiliki fenomena geografis yang menarik. Sebagaimana umumnya penduduk pesisir bermata pencahariaan sebagai nelayan dan pekerjaan yang terkait dengan pernelayanan. Seiring dengan perkembangan Segara Anakan yang merupakan tempat untuk mencari ikan bagi penduduk, terjadi pula dinamika aktivitas penduduk. Sedimentasi Sungai Citandui menyebabkan Segara Anakan mengalami pendangkalan, bahkan sebagian telah menjadi daratan dan dimanfaatkan oleh penduduk untuk membudidayakan tanaman pertanian. Sedimentasi telah mempengaruhi perubahan bentuk penggunaan lahan dan transformasi mata pencahariaan dan tenaga kerja, yakni dari nelayan ke pertanian.
3. Daerah Soka dan sekitarnya, Kebumen
Soka merupakan merupakan daerah yang aktivitas penduduknya sangat khas, yang dalam bidang industri genteng. Industri genteng Soka sudah sangat terkenal secara nasional. Pengaruh jenis tanah yang sesuai untuk pembuatan genteng menyebabkan penduduk termotivasi untuk berkecimpung dalam industri genteng. Jenis tanah yang ada muncul sebagai hasil dari proses penghancuran batuan induk yang ada di pegunungan daerah Karangsambung. Permasalahan yang yang dapat dicari jawabannya berkaitan dengan kegiatan KKL Sosek di daerah ini antara lain: seberapa besar pengaruh kondisi fisik terhadap mata pencahariaan penduduk, seberapa besar bidang industri genteng menyerap tenaga kerja, seberapa besar besarnya sumbangan industri genteng terhadap pendapatan penduduk, bagaimana pola pemasaran produksi genteng, dan bagaimana upaya konservasi yang telah dilakukan penduduk terhadap lahan-lahan bekas penggalian bahan untuk pembuatan genteng.
4. Mlangi dan sekitarnya
Mlangi merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kabupaten Sleman yang mempunyai karakteristik sosial ekonomi yang spesifik. Secara fisiografis daerah ini merupakan dataran, dengan kondisi irigasi yang baik sehingga lahan sawah dimanfaatkan oleh penduduk untuk pertanian padi. Mata pencaharian selain bidang pertanian adalah bidang konveksi. Menjahit dan pekerjaan lain yang berkaitan dengan pembuatan busana menjadi keterampilan yang banyak dikuasi oleh penduduk setempat, sehingga dari pekerjaan menjahit inilah kesejahteraan penduduk dapat tercapai secara cukup merata. Fenomena sosial yang menarik adalah bahwa daerah ini memiliki relijiusitas tinggi, tercermin dari bertebarnya sejumlah pondok-pondok pesantren. Pondok-pondok pesantren tersebut dilihat dari ukurannya memang kecil-kecil karena dikelola oleh keluarga-keluarga. Fenomena unik dari pondok pesantren di Mlangi adalah banyak santri yang pada siang hari bekerja dalam bidang konveksi, sehingga santri dapat mandiri.
5. Daerah-daerah lainnya

D. Perencanaan
Perencanaan kegiatan KKL mencakup persiapan teknik dan nonteknis. Perencanaan teknis terkait dengan tugas kepanitian. Perencanaan teknis tidak perlu semuanya tercantum dalam proposal, meskipun pada proposal terdapat pula sebagaian perencanaan teknis. Perencanaan teknis antara lain meliputi: akomodasi, konsumsi, transportasi, dokumentasi, anggaran, mengatur pertemuan dengan warga, setting acara (pertemuan dengan warga, kepala desa/sesepuh, diskusi), dan lain-lain. Perencanaan teknis ini perlu didukung informasi yang akurat, karena informasi yang tidak lengkap dan akurat dapat mengacaukan jalannya kerja lapangan.
Perencanaan nonteknis atau yang bersifat akademik harus tertuang secara jelas dalam proposal. Oleh karena pentingnya perencanaan maka dalam pembuatan proposal perlu melalui bimbingan dosen pembimbing KKL. Adapun komponen proposal yang perlu diperhatikan agar memenuhi standar minimal adalah sebagai berikut:
A. JUDUL
Cantumkan judul secara singkat, usahakan tidak lebih dari 20 kata, mengandung variabel, keterkaitan, dan lokasi.
B. LATAR BELAKANG MASALAH
Latar belakang berisi tentang alasan munculnya masalah yang diangkat, didukung data yang menunjukkan terjadinya masalah. Data mencerminkan adanya kesenjangan antara fakta yang terjadi di daerah yang akan diteliti dengan data yang seharusnya. Secara teoretik seharusnya tidak terjadi fakta sebagaimana tercermin pada data.
C. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan deskripsi yang tertera pada latar belakang masalah, dapat dikenali beberapa masalah yang mungkin jumlahnya sangat banyak. Masalah merupakan kesenjangan antara fakta yang terjadi dengan yang seharusnya terjadi.
D. PEMBATASAN MASALAH
Dari sejumlah masalah yang berhasil diidentifikasi tidak semuanya diteliti, tetapi masalah harus dipilih berdasarkan urgensi masalah dan dengan tujuan penelitian. Tidak mungkin semua masalah diteliti karena hal itu berarti menambah biaya, tenaga, dan waktu disamping menyimpang dari tujuan yang telah direncanakan. Juga mungkin tidak sesuai dengan tinjauan disiplin ilmu yang ditekuni peneliti. Dengan demikian, mungkin dari 10 masalah yang berhasil diketemukan hanya 2 sampai 5 masalah saja.
E. PERUMUSAN MASALAH
Masalah yang telah dipilih selanjutnya perlu dirumuskan secara sederhana dan lugas tetapi mengandung tantangan untuk menjawabnya. Masalah dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan maupun dalam bentuk pernyataan, tetapi umumnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
F. TUJUAN KEGIATAN
Tujuan kegiatan/penelitian harus relevan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Misalnya rumusan masalah berbunyi: apakah terdapat perbedaan yang nyata dalam hal pola kerja penduduk antara masyarakat wilayah A, B, dan C?, maka tujuan kegiatan adalah mengetahui perbedaan pola kerja antara penduduk wilayah A, B, dan C. Untuk diperhatikan bahwa tujuan, rumusan masalah, dan batasan masalah harus relevan.
G. MANFAAT KEGIATAN
Manfaat kegiatan dapat dibedakan menjadi dua, yakni manfaat teoretis dan praktis. Manfaat teoretis berkaitan dengan sumbangsih hasil penelitian terhadap suatu disiplin ilmu atau paling tidak terhadap teori yang telah ada pada disiplin ilmu yang bersangkutan, misalnya: menemutunjukkan faktor penyebab seragamnya pola kerja penduduk A, B, dan C.
H. KAJIAN PUSTAKA
Kajian pustaka berisi teori-teori dan data yang berasal dari dokumen atau pustaka dengan maksud untuk mendukung permaslahan yang sedang diangkat atau untuk menunjukkan pustaka yang mungkin seirama atau bahkan bertentangan dengan tema yang diangkat. Dengan kajian pustaka ini dapat ditunjukkan posisi permasalahan yang diangkat peneliti dalam konstelasi diskursus suatu disiplin keilmuan. Disamping itu dapat ditunjukkan orisinalitas penelitian yang akan diangkat. Orisinalitas tidak harus secara menyeluruh, mungkin pada meodologinya, pendekatannya, lokasi, karakteristik subjek penelitian, waktu penelitian, dan lain-lain. Perlu diketahui bahwa bahan pustaka yang baik adalah pustaka yang mutakhir (usia tidak lebih dari 10 tahun), ditulis oleh ahlinya, dokumen resmi, diterbitkan oleh lembaga terpercaya. Bobot pustaka yang paling tinggi adalah jurnal penelitian/majalah ilmiah.
I. PENYUSUNAN KERANGKA BERFIKIR
Kerangka berpikir berisi uraian mengenai bagaimana alur pemikiran dari masalah yang diangkat. Alur pemikiran secara rasional suatu masalah dapat diturunkan dari sebuah masalah yang lebih besar. Dengan kata lain, kerangka berpikir merupakan peta masalah dalam suatu disiplin ilmu.
J. PERUMUSAN HIPOTESIS
Tidak semua penelitian bermaksud untuk menguji suatu hipotesis, tetapi jika suatu masalah secara metodologis memang memerlukan hipotesis sebagai jawaban sementara atas suatu masalah agar dapat diuji, maka perlu dirumuskan hipotesisnya baik hipotesis nihil (Ho) maupun hipotesis alternatif (Ha).
K. METODE PENELITIAN
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
2. Popolasi dan Sampel
3. Teknik pengambilan Sampel
4. Teknik pengumpulan data
5. Instrumen penelitian
6. Pengolahan data
7. Teknik analisis data
L. JADWAL KEGIATAN
Jadwal berisi jenis kegiatan tahap demi tahap dan tarjet waktu pelaksanaan masing-masing tahap. Bila kegiatan terlalu banyak, sehingga tidak termuat dalam satu lembar, maka jadwal ini dapat dipasang pada bagian lampiran. Pada bagian proposal cukup dicantumkan kalimat: persiapan sampai penyelesaian kegiatan akan dialksanakan pada tgl xx s.d xx, jadwal kegiatan secara lengkap dapat dilihat pada lampiran xx.
M. RENCANA ANGGARAN
Rencana anggaran memuat rincian: (1) sumber masukan beserta jumlah dana yang telah ada dan sumber potensial (2) jumlah pengeluaran beserta jenis kebutuhan. Bila rincian ini tidak cukup dengan display 1 lembar, sebaiknya diletakkan pada bagian lampiran.
N. SUSUNAN PANITIA (dapat diletakkan di lampiran bila tidak dapat ditampilkan dalam satu lembar)
O. DAFTAR PUSTAKA
P. LAMPIRAN
Sebagai catatan dalam pembuatan proposal adalah proposal berbeda dengan laporan. Dalam proposal tidak dibuat dalam bentuk bab-bab, di dalam proposal tidak ada bab. Bab hanya ada dalam laporan kegiatan/penelitian. Susunan proposal hanya dengan urutan huruf besar dari A-Z diurutkan hingga selesainya semua komponen.

E. Pembimbingan dan Pengarahan
Pembimbingan (briefing) dan pengarahan (directing) merupakan kegiatan penting yang wajib dilakukan sebelum mahasiswa terjun ke lapangan. Keberadaan pembimbing KKL mutlak diperlukan. Tugas dosen pembimbing adalah memberikan bekal materi yangberkaitan dengan kerja lapangan dari penyusunan tema kegiatan, pemberian gambaran awal mengenai daerah yang hendak dituju, penyusunan proposal dan instrumen penelitian, pengumpulan dan pengolahan data, pengorganisasian data, analisis data, interpretasi data, penyusunan laporan, dan evaluasi.
Pembimbingan awal yang dilakukan di kampus atau dikenal dengan istilah pembekalan, merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh mahasiswa. Kegiatan pembimbingan dilakukan oleh Tim dosen pembimbing atau dapat pula dengan mendatangkan nara sumber yang berkaitan dengan tema yang akan diteliti. Untuk keperluan lancarnya kegiatan, maka setiap mahasiswa harus memenuhi syarat 75% hadir dalam frekuensi pembimbingan yang dilaksanakan secara klasikal. Pembimbingan dapat diakukan seminggu sekali dan dapat ditambah bila diperlukan.
Kegiatan pengarahan berkaitan dengan penentuan lokasi KKL agar lokasi yang dipilih oleh mahasiswa memenuhi syarat sesuai tema KKL. Pengarahan juga terkait dengan efisiensi atau strategi kerja lapangan, keamanan kegiatan, pengenalan lokasi.

F. Keamanan kerja lapangan
Faktor keamanan merupakan aspek penting yang perlu dipertimbangkan. Kemungkinan ancaman baik yang bersumber dari faktor sosial-budaya maupun aspek alam harus dapat diidentifikasi oleh Tim pre-survey. Ancaman sosial budaya misalnya berupa perbedaan adat istiadat antara mahasiswa dengan adat istiadat tempat yang didatangi bila tidak diantisipasi dapat menjadi ancaman keamanan. Situasi sosial yang sedang terjadi juga perlu diidentifikasi agar jangan sampai KKL berada pada suatu daerah yang sedang terjadi konflik.
Sumber ancaman keamanan yang bersumber dari alam juga perlu diperhatikan mengingat bahwa medan yang didatangi merupakan tempat yang sama sekali baru bagi mahasiswa. Keadaan lereng yang curam, lika-liku jalan, tanah yang mungkin licin, ancaman binatang buas, dan lain-lain.
Untuk keperluan keamanan kerja lapangan ini, maka dalam kepanitian perlu dibentuk seksi kemanan yang dapat bekerja untuk melakukan presurvey, penyiapan peralatan kemanan, dan melakukan negosiasi dan bekerja sama dengan kepala kemanan setempat. Sebagai catatan, mengingat faktor keamanan memegang peranan sangat penting, maka hindarilah lokasi yang memiliki resiko keamanan tinggi.
Faktor resiko keamanan yang bersifat fisiografis memang lebih mudah diidentifikasi, tetapi resiko nonfisiografis, terutama kultur, di manapun akan ada resiko. Oleh karena itu faktor kultur inilah yang perlu mendapat perhatian lebih. Suatu daerah secara fisiografis mungkin tidak mengandung resiko, tetapi secara kultur dan sosial pasti memilikinya.


BAB III
KONSEPSI DAN PENGUKURAN GEJALA SOSIAL EKONOMI

A. Pendahuluan
Salah satu hal penting yang perlu diketahui untuk memahami kondisi sosial ekonomi suatu masyarakat adalah bahwa kondisi sosial ekonomi sangat terkait dengan ruang dan waktu. Ini berarti bahwa sangat besar kemungkinan kondisi sosial ekonomi suatu wilayah berbeda dengan wilayah lainnya (socio-economic differenciation). Akibatnya untuk melakukan generalisasi seringkali sangat sulit. Disamping itu, perubahan kondisi sosial ekonomi di suatu wilayah merupakan proses yang sangat cepat dan dinamis. Berdasarkan dua hal tersebut, pertanyaan “where” dan “when” merupakan hal penting untuk memahami kondisi sosial ekonomi suatu masyarakat.
Selain unsur di atas, hal lain yang juga penting secara konseptual adalah memahami proses dan mekanisme yang berlangsung sehingga menghasilkan suatu kondisi sosial ekonomi tertentu. Pemahaman tersebut merupakan bagian yang tak terpisah untuk menjelaskan mengapa kondisi sosial ekonomi tertentu terdapat di wilayah tertentu dalam waktu tertentu, sementara di lain tempat kondisinya berbeda. Hal ini mengandung pengertian bahwa jawaban terhadap pertanyaan “how” dan “why” merupakan hal penting lainnya di luar dua pertanyaan yang telah disebutkan sebelumnya. Secara lengkap sedapat mungkin dapat menjawab pertanyaan 4WH
Untuk dapat memahami permsalahan di lapangan maka pemahaman yang benar mengenai pengertian sosial-budaya, sosial-ekonomi, maupun sosial itu sendiri. Pembahasan ini merupakan bagian sari pertanyaan lain yang sangat penting, yaitu “apa”. Pertama, sering dicampuradukkan penggunaan istilah-istilah tersebut, sehingga kadang terdapat tumpang tindih dalam penurunannya ke tingkat variabel yang lebih rinci. Masalah pengukuran sosial-ekonomi makin penting, karena makin disadari bahwa kesejahteraan manusia tidak dapat diukur hanya dengan menggunakan kriteria fisik dan ekonomi saja. Kedua, karakter dari variabel sosial ekonomi adalah berkaitan erat dengan variabel di luarnya. Variabel sosial ekonomi yang berbeda akan mempunyai pola hubungan yang berbeda dengan variabel di luarnya. Hal ini disebabkan masing-masing variabel sosial ekonomi mempunyai sensitifitas yang berbeda terhadap pengaruh variabel di luarnya. Pemahaman ini akan melatih mahasiswa untuk sensitif terhadap segala perubahan sosial ekonomi yang terjadi di sekitarnya.
Dalam konteks disiplin ilmu geografi, pengertian sosial-ekonomi tidak dapat dipisahkan dari interaksinya dengan lingkungan alam. Hubungan antara kondisi sosial ekonomi dan lingkungan alam bersifat “reciprocal” (timbal balik). Intensitas hubungan tersebut pada akhirnya akan menjadi unsur utama dalam proses pembangunan. Dengan dasar tersebut sejak beberapa waktu yang lalu kesadaran mengenai interaksi antara lingkungan sosial dan lingkungan alam mulai menjadi bagian yang sangat penting dalam diskusi mengenai proses pembangunan nasional.
Secara mikro, variabel sosial ekonomi merupakan refleksi perubahan aktivitas individu dan/atau kelompok sebagai hasil dari proses adaptasi terhadap lingkungannya, baik lingkungan alam maupun sosial ekonomi. Secara makro, dinamika sosial ekonomi yang tergambar dari variabel-variabelnya, merupakan indikator perkembangan suatu wilayah. Keberhasilan atau kegagalan suatu pembangunan dapat dicerminkan oleh perubahan variabel sosial ekonomi di wilayah tersebut.

B. Konsep Sosial Ekonomi
Secara umum unsur-unsur lingkungan sosial ekonomi mencakup tiga aspek utama, yakni unsur sosio-budaya, demografi, dan ekonomi. Suatu analisis sosial ekonomi akan dianggap lengkap jika penyajiannya mencakup informasi unsur-unsur pokoki tersebut. Masalah yang dihadapi dalam kerangka berfikir adalah pada tingkat operasionalisasi untuk menelusuri lebih lanjut mengenai sub-sub unsur yang lebih rinci, agar dapat ditentukan indikator apa yang harus diangkat dalam tujuan-tujuan pengukuran tertentu. Salah satu usaha yang telah dilakukan adalah mempertimbangkan bagaimana mengidentifikasi semua data sub unsur dengan mengadakan pembedaan secara genetic yang dapat ditarik dari berbagai konsep dasar dalam ilmu-ilmu sosial. Jika akan diterapkan keadaan di Indonesia maka salah satu enjuran yang dapat diberikan yakni mengadakan pembedaan analisis berdasarkan pada perbedaan lokasi, apakah akan dilaksanakan di daerah perkotaan, ataua pedesaan. Dalam hal ini identifikasi sub unsur yang dilakukan yang dianggap penting untuk dapat memahami kondisi sosial ekonomi masyarakat maupun suatu wilayah. Sub unsur yang masih bersifat umum tersebut diuraikan di bawah ini
1. Unsur Sosio-Budaya
Unsur ini dapat ditunjukkan dari berbagai indikator, diantaranya adalah:
a. Organisasi budaya dan cara hidup sehari-hari: yang menyangkut jenis pranata yang ada dalam suatu masyarakat, adat istiadat, norma dan tata cara, dan pengelompokkan masyarakat.
b. Nilai, sikap, dan persepsi, baik antar kelompok, maupun mengenai kegiatan yang direncanakan. Dalam mengidentifikasi sub unsur ini perlu diadakan pembedaan antara nilai, sikap, dan persepsi antar kelompok, dan nilai, sikap, dan persepsi berbagai penduduk di suatu wilayah.
c. Distribusi kekuasaan dan kehidupan politik, yaitu pembagian kekuasaan yang berlaku dalam masyarakat tertentu, serta pergeseran kekuasaan dalam masyarakat.
d. Struktur stratifikasi, diartikan berbagai stratifikasi menurut berbagai pranata yang ada, misalnya struktur stratifikasi ekonomi, politik, pendidikan, dan agama dalam suatu masyarakat di suatu wilayah.
e. Diferensiasi dan diversifikasi peranan, dalam masyarakat yang menyangkut baik masalah kesempatan peranan, dan tingkat spesialisasi yang ada dan diperlukan.
f. Integrasi/keserasian, dilihat dari proses sosial yang dapat memelihara, mencegah, ataupun merusak keserasian.
g. Hubungan dengan daerah atau lokasi lainnya (extralocal linkages), yaitu keterkaitan yang ada antara masyarakat di suatu daerah, daerah lain, baik hubungan yang bersifat sosial, politik, maupun ekonomi.
h. Pranata atau kelembagaan serta fungsinya dalam suatu masyarakat, erat hubungannya dengan sub unsur organisasi budaya dan cara hidup sehari-hari. Tetapi di sini dilihat jenis dan jaringan hubungan dalam setiap pranata, misalnya keluarga, ekonomi, politik, pendidikan, agama, dan religi.
i. Pengalaman dengan perubahan sosial, yaitu tingkat kesanggupan masyarakat menangani perubahan yang dating dari luar, yaitu yang diakibatkan oleh intervensi serta cara-cara penanganan perubahan. Identifikasi perlu juga dilakukan mengenai tipe/jenis perubahan yang pernah dialami oleh berbagai kelompok sosial dn masyarakat, serta derajat kontak antara kelompok.
j. Masalah sosial, yaitu jenis-jenis masalah yang ada serta penanganannya di masyarakat.
k. Sub-sub unsur lain yang dapat diembangkan unsur-unsur di atas berdasarkan perkembangan situasi
Dalam banyak kasus unsur sosial budaya membutuhkan analisis yang bersifat kualitatif. Akan tetapi hal ini bukan berarti menutup kemungkinan dilakukannya analisis kuantitatif. Adapun beberapa aspek yang dapat dikembangkan antara lain menyangkut masalah-masalah yang dianggap berkaitan erat dengan unsur sosio-budaya, misalnya:
a. Kesehatan lingkungan, mengingat kesehatan mungkin dapat dipengaruhi oleh cirri kependudukan, cara hidup penggunaan sumber daya, keadaan biofisik, serta resiko suatu proyek.
b. Penggunaan sumber daya (produksi-distribusi dan pola konsumsi), karena teknologi yang digunakan dalam suatu kegiatan pembangunan dapat mengubah pola konsumsi setempat yang selanjutnya mengubah cara hidup sehari-hari maupun penggunaan lahan.
c. Lingkungan binaan, mengingat perubahan pada lingkungan binaan akan membawa dampak perubahan persepsi, orientasi, rasa kenyamanan, dan interaksi sosial.

2. Unsur Kependudukan
Secara umum unsur kependudukan dapat dibagi menjadi dua yaitu variabel proses dan variabel struktur. Variabel proses menyangkut semua variabel yang mempengaruhi struktur penduduk, yaitu kelahiran (fertility), kematian (mortality), dan migrasi (migration). Sementara itu variabel struktur menyangkut jumlah, distribusi, perkembangan, dan komposisi.
Pembahasan mengenai kondisi kependudukan menjadi penting karena masalah kependudukan berkaitan erat dengan dinamika sosial-ekonomi dan dinamika keruangan. Di bawah ini dicantumkan beberapa contoh variabel struktur demografi yang dianggap relevan bagi analisis kondisi sosial-ekonomi suatu wilayah dengan tidak menutup kemungkinan mengembangkannya pada aspek yang lebih luas dan kompleks.
a. Jumlah penduduk,
Jumlah penduduk mengindikasikan jumlah tenaga kerja yang tersedia di suatu wilayah. Makin besar jumlah penduduk dan makin banyak diferensiasi kerja yang ada di suatu lokasi kegiatan pembangunan, makin kecil intensitas dampak sosial-ekonomi yang diperkirakan karena pembangunan dapat menggunakan tenaga kerja setempat. Dalam hal jumlah penduduk ini perlu pula dilihat kualitasnya.
b. Kepadatan penduduk
Tingkat kepadatan dan komposisi penduduk suatu wilayah dapat dipakai untuk memperkirakan interaksi sosial, potensi pasar, distribusi pembangunan, perlakuan dalam pembangunan.
c. Jarak dari pusat daerah atau kota
Jarak berkaitan dengan unsur biaya, transportasi, dan aksesibilitas. Oleh karena itu jarak yang berbeda-beda ini akan berdampak pada kenampakan sosial ekonomi yang berbeda.
d. Keanekaragaman penduduk di suatu wilayah.
Keanekaragaman penduduk dalam hal suku/ras, bahasa, mata pencaharian akan menimbulkan hubungan saling ketergantungan antara masing-masing penduduk sehingga akan tercipta kerukunan karena rasa saling membutuhkan.
e. Pola perubahan penduduk. Dengan diketahui pola perubahan penduduk dapat diperkirakan tenaga kerja yang tersedia bagi kegiatan pembangunan yang direncanakan.

2. Unsur Ekonomi
Secara teknis unsur ekonomi menyangkut dua aspek pokok yaitu penawaran (supply) dan permintaan (demand). Dua aspek ini dapat diterapkan untuk setiap sub unsur yang ada. Akan tetapi untuk menghindarkan pembicaraan yang terlalu teknis, maka unsur ekonomi dibatasi pada hal-hal yang terkait:
a. Pendapatan dan pengeluaran, terutama perubahannya akan menyebabkan perubahan pada daya beli penduduk, sehingga mengubah pula cara hidup sehari-hari.
b. Ketenagakerjaan, khususnya daya serap tenaga kerja berbagai sector ekonomi di suatu masyarakat dan pola komposisi tenaga kerja dapat mempengaruhi struktur stratifikasi serta kehidupan masyarakat setempat.
c. Perpajakan, dalam hubungan dengan system perpajakan, menentukan pula gaya hidup sehari-hari dari masyarakat, dan perubahan karena kegiatan pembangunan pada system atau pelaksanaan perpajakan akan membawa pengaruh terhadap sosial-ekonomi.
d. Pola kegiatan, mengingat tiap sector ekonomi memiliki kegiatan yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Perubahan pada pola kegiatan ini selanjutnya akan mempengaruhi kondisi sosial dari masyarakat tersebut.
Sub-subunsur ini bersifat tidak tetap, dapat berubah sesuai dengan situasi. Sub-sub unsure ini dapat dijabarkan seluas-luasnya, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan di Indonesia. Synthesis dari berbagai masukan yang didapat dari ilmuwn sosial Indonesia, baru menghasilkan kerangka pada tingkat teoritis saja. Karena itu, perlu adanya banyak uji coba, dimana diharapkan diperoleh masukan, data, dan atau informasi dari sub unsur mana yang dapat dilengkapi, serta bagaimana pengolahan data yang dapat dilakukan oleh beberapa ilmuwan Indonesia.

C. Indikator
Indikator sosial ekonomi dapat dibedakan atas dasar sifat-sifatnya:
1. Indikator Objektif dan Subjektif
Indikator, yaitu indikator yang sifatnya objektif dan yang subjektif. Indikator objektif ialah yang dapat diamati dan dihitung frekuensinya. Misalnya, angka kriminalitas, angka kesakitan, pemilikan barang berharga, tingkat pendidikan formal. Indikator subjektif ialah yang berupa persepsi tentang kualitas kehidupan, kualitas perumahan, kualitas kestabilan sosial, dan lain-lain. Seringkali terjadi hal yang kontradiktif antara kedua indikator tersebut. Misalnya ada orang yang merasa dirinya masih serba kekurangan walaupun hidupnya dari segi pemilikan barang-barang berharga sudah cukup makmur. Selain itu ada pula indikator yang bias diukur dengan kedua pendekatan objektif maupun subjektif. Misalnya tingkat kesehatan, dapat pula diukur berdasarkan pengamatan si individu tentang berapa hari dia merasa sakit dalam seminggu/sebulan/setahun.
2. Indikator umum dan khusus
Variabel yang dijadikan indikator dapat dirinci menjadi indikator-indikator yang lebih khusus. Misalnya indikator kualitas penduduk dapat dirinci menjadi indikator yang spesifik seperti tingkat pendidikan, kesehatan, tingkat harapan hidup, pendapatan, fisik/badan, dan lain-lain. Dari berbagai indikator yang spesifik ini dapat diketahui besarnya sumbangan masing-masing idnikator terhadap indikator umum. Beberapa teknik analisis statisti inferensial memungkinkan untuk mengetahui bobot sumbangan tersebut. Misalnya, analisis regresi berganda. Teknik analisis lain yang sangat mendukung pendekatan geografi , yakni dengan Anova (Analysis of variance) untuk mengetahui perbedaaan kondisi variabel yang sama pada daerah yang berbeda.

D. Variabel dan Hubungan Antar Variabel
Menurut salah satu ciri pokoknya, variabel kuantitatif dapat dibedakan menjadi dua, variabel diskrit dan variabel bersambungan (continue). Variabel diskrit disebut juga variabel nominal atau variabel kagorik, karena dikagorikan atas satuan-satuan dimana satuan-satuan tersebut tidak dapat lagi dibagi ke dalam satuan yang lebih kecil, misalnya ya-tidak, jenis kelamin, ata-bawah, tingkat pendidikan, jenis sekolah, dan lain-lain. Variabel bersambungan diantara dua satuan-satuan ukuran tersebut masih dapat dipilah-pilah lagi ke dalam satuan yang lebih kecil. Variabel koninum ini dapat dibagi menjadi tiga, yakni variabel ordinal, variabel interval, dan variabel ratio.
Variabel ordinal adalah variabel yang menunjukkan tingkatan-tingkatan, misalnya sangat panjang, panjang, kurang panjang, pendek. Variabel interval, yaitu variabel yang mempunyai jarak, jika dibanding dengan variabel lain, sementara jarak tersebut dapat diketahui secara pasti. Variabel ratio adalah variabel perbandingan, dalam kaitannya dengan variabel lain, maka suatu variabel dapat bernilai sekian kali vbariabel lain.
Variabel-variabel tersebut disamping berbeda jenisnya juga mempunyai hubungan yang berbeda-beda. Untuk dapat melakukan analisis data secara tepat maka perlu diketahui hubungan antar variabel tersebut, yaitu:
1. Hubungan simetris; variabel-variabel dikatakan mempunyai hubungan simetris bilamana variabel yang satu tidak dipengaruhi oleh variabel lainnya. Ada empat jenis hubungan simetris yaitu:
a). Kedua variabel merupakan indikator untuk konsep yang sama,
b). Kedua variabel merupakan akibat dari faktor yang sama,
c). Kedua variabel berkaitan secara fungsional dan
d). Kedua variabel merupakan hubungan kebetulan semata-mata.
2. Hubungan timbal balik adalah hubungan di mana satu variabel dapat menajdi sebab dan dapat pula menjadi akibat dari variabel lainnya atau variabel pengaruh dapat menjadi variabel terpengaruh pada waktu lain.
3. Hubungan asimetris; merupakan inti pokok dalam analisis masalah sosial-budaya di mana satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Ada enam tipe hubungan asimetris:
a. Hubungan antara stimulus dan respons, merupakan hubungan kausal (prinsip selektivitas) seperti hubungan antara devaluasi nilai rupiah dengan peningkatan ekspor non migas; metode mengajar dengan prestasi hasil belajar.
b. Hubungan antara disposisi dan respons; mempelajari kecenderungan untuk menunjukkan respons tertentu dalam keadaan tertentu pula. Dalam penelitian sosial, penelitian hubungan disposisi dn respons banyak muncul pada studi sikap dan tingkah laku.
c. Hubungan antara karakteristik individu dengan disposisi.
d. Hubungan antara prekondisi dengan akibat tertentu seperti usaha perluasan pedagang kaki lima dengan kemudahan meminjam kredit bank, kemudian distribusi kontrasepsi dengan pajak import.
e. Hubungan yang imanen antara dua variabel.
f. Hubungan antara tujuan dan cara; seperti penelitian hubungan antara keinginan bekerja keras dengan keberhasilan belajar, besarnya penanaman modal usaha dengan keuntungan yang didapat.

E. Penyusunan Skala Pengukuran dan Indeks
1. Skala Pengukuran
Sebagaimana telah dikemukakan pada jenis-jenis variabel maka penyusunan skala pengukuran juga disesuaikan dengan jenis variabel tersebut. Skala pengukuran adalah penunjukkan angka/nilai pada suatu variabel dengan prosedur yang sifatnya ada persamaan dengan realita yang diteliti. Tingkat ukuran suatu variabel tergantung kepada ukuran yang digunakan. Pemahaman terhadap hal ini penting untuk dilakukan karena akan sangat besar pengaruhnya terhadap analisis data.
a. Skala Nominal
Skala nominal atau diskrit/kageorik tidak ada jarak maupun urutan antara kategori-kategori dalam ukuran. Pemisahan tersebut hanya didasarkan pada kategori tidak tumpang tindih. Angka yang diberikan hanya sekedar label, tidak memberikan informasi kedudukan antara label yang satu dengan lainnya. Contoh skala nominal: laki-laki-perempuan, tinggi-rendah, hadir-tidak hadir. Dalam hal ini angka dihitung sebagai frekuensi.
b. Ukuran Ordinal
Dalam ukuran ordinal hanya mengurutkan dari tingkatan paling rendah ke tingkatan paling tinggi tanpa ada petunjuk yang jelas berapa jumlah absolute atribut yang dimiliki oleh masing-masing responden. Misalnya kondisi kepadatan penduduk ukuran ordinalnya sangat padat, padat, sedang, jarang, dan sangat jarang
c. Ukuran Interval
Dalam ukuran interval tidak semata-mata mengurutkan objek berdasarkan atribut, tetapi juga memberikan informasi tentang jarakl antar objek. Misalnya suhu air sungai di siang hari 28˚C. Jarak Jogja-Solo adalah 70 km, dan lain-lain.
d. Ukuran Rasio
Ukuran rasio adalah suatu bentuk ukuran interval yang jaraknya tidak dinyatakan dalam perbedaan dengan rata-rata suatu kelompok tetapi dengan titik nol. Jadi selain informasi urutan dan interval dari suatu objek, dapat diperoleh pula informasi jumlah absolute atribut yang dimiliki oleh salah satu objek yang diteliti.

2. Penyusunan Indeks dan Skala
Dalam studi sosial, instrument pengukur yang paling sederhana adalah berbentuk pertanyaan tunggal., pengukuran yang digunakan dalam ilmu sosial pada umumnya menggunakan ukuran gabungan. Ukuran gabungan ini lebih dikenal sebagai indeks dan skala. Bila diamati sepintas, indeks dan skala ada persamaannya, maka sering digunakan secara salah.
Perbedaan utama antara indeks dan skala adalah terletak pada penentuan skor. Indeks adalah penjumlahan skor untuk setiap pertanyaan atau pernyataan yang digunakan dalam penelitian. Jika suatu indeks yang diperoleh merupakan penjumlahan dari 10 pertanyaan dan setiap jawaban dari pertanyaan tersebut diberikan skor 1-5, maka skor indeks akan berkisar antara 10-50, tergantung variasi jawaban yang diberikan. Di lain pihak skala disusun atas dasar pemberian skor pada pola atribut yang digunakan dalam penelitian. Struktur dari pertanyaan/pernyataan yang digunakan tidak diberikan skor yang sama, tergantung dari atribut yang sudah diukur. Sebagai contoh ditanyakan mengenai jenis pekerjaan apa saja yang diperbolehkan untuk dijabat oleh lulusan SD. Apakah lulusan SD diperbolehkan bekerja sebagai: 1. Bupati, 2. Camat, 3. Lurah 4. Penjaga Gudang. Responden yang memiliki tingkat intelektualitas rendah akan menjawab ‘ya’ untuk semua opsi jawaban atas pertanyaan yang diajukan.
Oleh karena setiap pertanyaan diberikan skor yang sama (misal semua diberi nilai 1), maka responden yang tingkat sosialnya tinggi mempunyai indeks 4 dan yang rendah mempunyai indeks 1. Dengan demikian skor dari jenis pekerjaan Bupati sampai penjaga gudang dibuat sama, tanpa memberikan perbedaan skor antara keempat jenis pekerjaan tersebut.
Kemudian hal tersebut digunakan dalam penyusunan skala penerimaan sosial atas keempat jenis pekerjaan yang telah dijabat. Cara pembuatan skala lainnya dapat dengan member bobot pada masing-masing jenis pekerjaan. Bupati diberikan bobot atau skor tertinggi, sedangkan pekerjaan penjaga gudang diberi skor paling rendah. Rasional pemberian skor Bupati tertinggi karena seseorang diperbolehkan bekerja sebagai bupati boleh pula bekerja sebagai penjaga gudang dan tidak terjadi sebaliknya. Oleh karena itu dalam skala dapat memberikan informasi yang lebih lengkap dan umumnya ukuran skala akan lebih baik daripada indeks.
Dengan demikian, struktur intensitas yang didapat membedakan skal dengan indeks. Skor pada indeks tidak dapat menunjukkan tingkatan (rank) pada jenjang yang hendak diukur. Di lain pihak, skor pada skala disamping dapat memberikan interval antar responden, dapat pula memberikan urutan dalam jenjang yang akan diukur. Salah satu contoh indeks yang paling banyak digunakan dalam penelitian sosial adalah indeks status-ekonomi yang didasarkan atas pemilikan barang-barang berharga oleh masyarakat yang diteliti. Untuk menghindari jumlah angka yang besar, terutama untuk pemrosesan dengan komputer, peneliti biasanya membuat skor untuk masing-masing objek.






















BAB IV
CARA MELAKUKAN PENELITIAN

A. Pemilihan Indikator dan Variabel
Dari berbagai varibel social ekonomi yang ada di suatu daerah tidak mungkin dapat diteliti semuanya, oleh karena kegiatan penelitian KKL Sosial Ekonomi dilakukan pembatasan pada indikator-indikator utama saja. Ada empat indikator utama yang akan diperkenalkan kepada mahasiswa yang mencakup sejumlah variabel. Adapun indikator dan variabel tersebut adalah sebagai berikut:
1. Demografi (proses dan struktur)
Meliputi: kelahiran, kematian, migrasi, struktur dan komposisi penduduk, komposisi rumah tangga
2. Ekonomi dan Ketenagakerjaan
Indikator ini meliputi: struktur pekerjaan, pemilikan/penguasaan lahan, Pendapatan
3. Permukiman, meliputi: kualitas perumahan dan kualitas lingkungan
4. Kesehatan (morbiditas dan kualitas pelayanan kesehatan)
5. Sosial (pendidikan dan jaringan social)
6. Kesejahteraan masyarakat (kondisi masyarakat dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu).
7. Kesejahteraan petani (Nilai tukar petani yang merupakan perbandingan antara indeks harga beli dan indeks harga jual)

B. Metode dan Alat Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa cara. Untuk keperluan KKL Sosesk ini, metode yang paling mudah dan memungkinkan karena waktu yang pendek adalah:
a. Observasi
Observasi lapangan pada umumnya dibedakan menjadi observasi terkontrol (kontrolled observation) dan observasi idak terkontrol (unkontrolled observation). Untuk keperluan KKL ini sebaiknya menggunakan observasi terkontrol agar pengolahan datanya lebih cepat dan mudah. Untuk memudahkan pelaksanaan observasi ini maka instrument harus telah dipersiapkan sebelumnya secara akurat. Alat yang digunakan berupa checklist.
b. Wawancara
Wawancara sebagai cara untuk mrngumpulkan data dari responden dapat dilakukan dengan wawancara tidak terstruktur, semi terstruktur dan terstruktur. Untuk kepentingan KKL ini sebaiknya menggunakan teknik wawancara terstruktur. Wawancara terstruktur dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan sebelumnya. Mahasiswa yang akan melakukan wawancara sebaiknya mengadakan latihan terlebih dahulu.
c. Kuesioner
Metode Kuesioner merupakan metode yang paling mudah pelaksanaannya. Dalam hal ini mahasiswa tinggal mwenyebarkan kuesioner kepada para responden sejumlah responden yang telah ditetapkan sebelumnya. Metode ini mudah tetapi resiko ketidakakuratan data dan tidak terpenuhinya jumlah kuesioner yang kembali. Ketidakakuratan data terjadi karena responden kurang memahami isi kuesioner dan tidak terpenuhi jumlah eksemplar kuesioner yang kembali karena responden enggan mengembalikan.
d. Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan cara pengumpulan data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan sebagainya. Dalam penggunaan metode ini, maka peneliti harus memegang checklist. Jika suatu data telah diketemukan pada dokumen, maka peneliti tinggal memberikan tanda silang atau centang pada kolom atau kotak yang ada.

C. Lokasi dan Pemilihan Responden
Sebagaimana telah disebutkan pada bab sebelumnya bahwa pemilihan lokasi perlu mempertimbangkan beberpa aspek oleh karena KKL ini bernama KKL Sosial ekonomi, maka pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan utama keberadaaan gejala social dan ekonomi yang berkaitan dengan kondisi geografis setempat. Lokasinya akan menyesuaikan dengan lokasi yang akan digunakan dalam pengukuran proses dan hasil proses fisik dan keterkaitannya dengan kondisi social ekonomi. Penentuan sampel area (daerah, desa, atau dusun) akan ditentukan kemudian secara purposive. Responden akan dipilih dengan metode acak sederhana.

D. Pengelolaan Data
Cara pengumpulan data yang paling mudah, murah, cepat dan hasilnya cukup baik sehingga sering dipakai untuk kegiatan KKL social ekonomi adalah dengan wawancara. Alternatif jawaban pada wawancara dapat berupa Ya/Tidak, setuju/tidak setuju atau secara bergradasi: sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju, atau dapat pula jawaban dibiarkan bebas sebagaimana jawaban terhdap pertanyaan terbuka.
1. Mengkode Data
Untuk keperluan pengelolaan data, maka jawaban-jawaban tersebut diberi symbol berupa angka atau biasa disebut dengan kode. Pada pertanyaan tertutup kode tersebut telah ditentukan, misalnya jawaban Ya diberi kode 1 dan Tidak diberi kode 0, pada pertanyaan dengan alternatif jawaban bertingkat dapat diberi kode sesuai jumlah alternatif jawabannya misalnya dari 5 sampai 1. Sementara pada pertanyaan terbuka, maka jawaban harus dikategorikan terlebih dahulu, kemudian baru diberi kode.
Pemberian kode harus disesuiakan dengan pedoman yang telah dipersiapkan sebelumnya. Buku pedoman pembereian kode ini disebut buku kode. Pemberian kode untuk setiap jawaban adalah isi pokok sebuah buku kode. Adapun cara memberi kode tergantung pada jenis pertanyaannya. Jika jenis pertanyaannya berupa pertanyaan tertutup, maka variasi jawaban tersebut dapat langsung diberi kode sehingga pewawancara tinggal melingkari alternatif jawaban. Perlu diperhatikan pula alternatif jawaban di luar yang telah disediakan, yakni untuk mengantisipasi kemungkinan jawaban TIDAK TAHU, LUPA, atau TIDAK ADA JAWABAN.
Dalam hal pembuatan kategori jawaban untuk pertanyaan terbuka maka perlu memperhatiakan dua hal, yakni: (1) kategori jawaban harus tegas perbedaannya, sehingga tidak ada tumpang tindih antara jawaban yang satu dengan jawaban lainnya; (2) persentase jawaban “lain-lain” atau “lainnya” sdapta mungkin jumlahnya sedikit saja, misalnya kurang dari 10%.
Untuk pertanyaan semi terbuka (pertanyaan yang sebagian alternatif jawabannya telah disediakan, karena kemungkinan responden menjawab di luar jawaban yang telah disediakan). Oleh karena itu perlu ada penambahan kode, bahkan kode baru untuk kemungkinan jawaban yang tidak bias diberi kode yang telah disediakan. Contoh:
Buku kode berfungsi sebagai pedoman oleh pengolah data untuk memindahkan kode jawaban responden dari kuesioner ke lembar kode (code sheet), kartu tabulasi atau ke tempat/kotak-kotak kode yang telah disediakan. Buku kode ini juga berfungsi untuk pedoman untuk mengidentifikasi variable penelitian yang akan dipakai dalam analisis dan membaca tabulasi data.
a. Isi buku kode
1). Nomor halaman kuesioner
Informasi ini diperlukan karena halaman kuesoner yang berisi pertanyaan yang akan dikode dapat diketahui dengan cepat dan mudah.
2). Nomor pertanyaan
3). Nomor variable. Informasi ini diperlukan karena nomor variable tidak selalu sama dengan nomor pertanyaan. Biasanya tiap pertanyaan merupakan satu variable, tetapi dapat pula lebih dari satu variable.
4). Nama variable dan kode jawaban
Nama variable adalah merupakan judul variable, dibuat sesingkat mungkin tetapi jelas maksudnya
5). Kolom (kotak).
Pada kolom ini berisi in formasi tentang lokasi masing-masing variable dalam lembaran kode atau kartu tabulasi.
b. Tempat kode T
Tempat kode dapat dibuat dengan dua cara, yakni menjadi satu dengan kuesioner atau tempat kode terpisah dari kuesioner. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Peneliti tinggal memilih mana yang sekiranya lebih nyaman untuk pengerjaannya.

Tabel 3. Contoh Buku Kode Studi Pengukuran Proses Sosial Ekonomi
No Variabel Variabel label Value label Jumlah kolom Nomor kolom
1. No.res Nomor responden 3 1-3
2. Alamat Dusun tempat tinggal 1 4
3. Sex Jenis kelamin 1. Laki-laki
2. Perempuan 1 5
4. Educat Tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan 1. Tidak sekolah
2. Tidak tamat SD
3. SD
4. SLP
5. SLA6. PT 1 6
5. Umur Umur responden 2 7-8
6. Statuskwn Status perkawinan 1. Belum kawin
2. Kawin
3. Cerai hidup
4. Cerai mati 1 9
Catatan: Isikan untuk semua variabel
2. Pengolahan Data
Data yang telah dikode selanjutnya dipindahkan ke dalam kartu atau berkas data. Cara merekam data dapat dilakukan dengan kartu tabulasi dan computer.
a. Kartu tabulasi
Kartu tabulasi berbentuk persegi panjang dengan ukuran kurang lebih 15 cm x 20 cm atau lebih kecil lagi. Data yang telah dikode dipindahkan ke dalam kotak-kotak bernomor pada kartu. Setiap kotak memuat data pindahan dari kuesioner. Setiap kartu tabulasi memuat seluruh data dari masing-masing responden. Data tersebut antara lain nomor identitas (no. ID) tahun lahir responden, bulan lahir, pendapatan responden per bulan, pendidikan, dan lain-lain. Sebagai gambaran berikut ini disajikan contoh kartu tabulasi


1 2 3 4 5 6 7 8 9
27
10
26
11
25 12
24 13
23 22 21 20 19 18 17 16 15 14

Keterangan:
Kotak 1 untuk Nomor ID (identitas responden), misal N=50, maka No.ID 01 s.d 50
Kotak 2 berisi variable no. 2; tahun lahir responden
Kotak 3 berisi variable no. 3; tahun lahir responden
Kotak 2 berisi variable no. 4; bulan lahir responden
Kotak 2 berisi variable no. 5; pendapatan responden per bulan
Kotak 2 berisi variable no. 6; pendidikan
Kotak 2 berisi variable no. 7; pernah mengandung
Kotak 2 berisi variable no. 8;jumlah anak masih hidup dan seterusnya
Sumber: Masri Singarimbun dan Soffian Effendi, 1989.

Catatan:
Penggunaan kartu tabulasi menguntungkan bila jumlah responden dan variable sedikit, tetapi akan sangat merepotkan bila penelitian melibatkan banyak rsponden dan variable.

b. Komputer
Saat ini berbagai program computer dapat dimanfaatkan untuk keperluan pengolahan data. Program Microsoft Excell, SPSS, SPS, dan lain-lain dapat secara cepat mengolah data dan bahkan samapi analisisnya.

E. Analisis Data
Teknik analisis data harus disesuaikan dengan desain penelitian, jenis variable, jenis data, Analisis dalam penelitian sosial dapat dibedakan ke dalam dua kelompok, yaitu analisis untuk data diskrit dan kontinum. Metode yang digunakan dalam analisis data kategorikal adalah metode tabulasi silang atau analisis elaborasi. Selanjutnya untuk dapat bersambungan biasanya dipakai berbagai teknik statistic deskriptif seperti distribusi frekuensi, rata-rata median, modus, deviasi, analisis korelasi, multivariate, dan lain sebagainya (Effendi dan Manning, 1987).
Teknik analisis data yang sangat sederhana, namun mempunyai kemampuan yang cukup baik untuk mengungkapkan hubungan antar variable adalah tabulasi silang. Analisis tabulasi silang ini dapat pula digunakan untuk analisis data kategorikal atau data bersambungan yang telah dirubah dahulu ke dalam data kategorikal. Analisis tabel silang dapat dilakukan dengan melalui tahapan seperti berikut:
1. menyusun tabel frekuensi/tabel satu variabel. Sebaiknya semua variabel dalam penelitian dibuat tabel frekuensi untuk analisis diskriptif.
2. menyusun tabel silang dua variabel, dan variabel pengaruh.
3. menyusun tabel silang tiga variabel, yaitu tabel silang antara variabel terpengaruh, variabel pengaruh, dan variabel kontrol.
Pada umumnya bentuk tabel silang dua atau tiga variabel sudah disajikan dalam bentuk tabel kosong (dummy tabels), disusun sebelum data dikumpulkan. Dan dalam kerangka tabel kosong tersebut sudah ditentukan pula variabel-variabel yang akan ditabulasi, termasuk pula yang digunakan dari setiap variabel. Dengan menggunakan metode urutan analisis tabulasi tersebut maka arah analisis data mudah dilakukan.
1. Analisis Satu Variabel
Pada analisis satu variabel, maka tahap awal yang harus dilakukan analisis menyusun tabel frekuensi. Kegunaan dari tabel frekuensi adalah: 1) dapat digunakan untuk mempelajari distribusi dari setiap variabel penelitian. 2) dasar penyusunan klasifikasi jawaban. 3) mengetahui kualitas data terutama konsistensi jawaban antara variabel satu dengan variabel lainnya yang berhubungan. 4) untuk memilih model analisis terutama test statistic.
Masih banyak penelitian sosial yang kurang memperhatikan manfaat dari tabel frekuensi. Tanpa membuat tabel frekuensi, tidak akan dapat menguasai masalah yang diteliti secara baik dan tidak diketahui pula pola distribusi dari setiap variabel hasil penelitian. Penyalahgunaan test statistic dapat terjadi dikarenakan peneliti belum mengetahui sifat distribusi dari variabel hasil penelitian. Tidak jarang dijumpai test statistic yang seharusnya hanya digunakan untuk variabel yang distribusinya normal, digunakan untuk analisis variabel yang distribusinya jauh dari normal.
Tabel frekuensi umumnya memuat dua kelompok, kolom distribusi jumlah frekuensi absolute dan distribusi jumlah relative (dalam hal ini persentase). Dalam tabel frekuensi tidak semua klasifikasi dicantumkan. Penyederhanaan klasifikasi dilakukan untuk kategori jawaban yang frekuensinya cukup kecil dengan cara menggabungkan klasifikasi atau kelompok yang lebih besar agar memudahkan dalam analisis, kecuali beberapa variabel dengan klasifikasi yang standar. Beberapa klasifikasi dari variabel yang sudah standar seperti halnya: umur, umur usia sekolah SD, SLP, SLA; tingkat pendidikan; lapangan pekerjaan, jenis dan status pekerjaan, kebutuhan fisik minimum dan lain-lainnya.
Dalam penyajian tabel frekuensi sedapat mungkin disajikan mulai dari nilai klasifikasi yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Bilamana tidak ada urutan klasifikasi yang jelas maka tabel frekuensi dapat disusun menurut skala relatif yaitu berdasarkan besarnya persentase untuk setiap klasifikasi. Untuk tabel frekuensi yang memuat variabel berskala interval maupun ratio dilengkapi dengan bahasan pendekatan statistic seperti ukuran mean, median, mode, dan standar deviasi untuk setiap variable, lebih baik lagi bila ditunjukkan dalam bentuk gambar grafik .
2. Analisa Dua Variabel
Penyusunan tabel silang merupakan metode analisis sederhana untuk mengamati hubungan antar variabel. Dalam menyusun tabel silang perlu diperhatikan beberapa prinsip sederhana agar hubungan antara dua variabel tampak jelas. Dalam tabel silang biasanya dihitung persentase untuk setiap kelompok agar mudah dilihat hubungan antar dua variabel. “persentase selalu dihitung pada variabel pengaruh, yaitu persentase distribusi variabel terpengaruh dihitung bagi setiap kelompok variabel pengaruh”. Jumlah populasi perlu juga dicatat, agar angka absolute mudah dihitung. Pada umumnya untuk memudahkan dalam membaca, variabel terpengaruh biasanya disusun pada jenis garis vertical, sedangkan variabel pengaruh disusun pada garis horizontal. Di samping itu, tabel silang dapat juga disajikan dengan angka rata-rata untuk variabel terpengaruh bagi setiap variabel pengaruh.
3. Analisa Tiga Variabel
Telah disebutkan sebelumnya bahwa dalam penelitian sosial ekonomi variabel kontrol adalah penting dalam upaya untuk melihat hubungan antara variabel pengaruh dan terpengaruh. Dalam analisis tabel silang dengan variabel kontrol perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) jumlah kelompok bagi setiap variabel kontrol diusahakan tabel banyak agar responden/populasi yang ada pada setiap kelompok variabel kontrol cukup banyak. 2) dalam penyajian, kelompok variabel kontrol dipisahkan terlebih dahulu agar mudah dilihat hubungan antara variabel pengaruh dengan terpengaruh.

F. Interpretasi Tabel
Setelah tabel frekuensi dan tabel silang selesai disusun, peneliti perlu melakukan interpretasi agar kesimpulan-kesimpulan mudah didapat oleh pembaca. Ada dua kecenderungan yang harus dihindari oleh penulis laporan yaitu; pertama, Menyerahkan tabel-tabel hasil penelitian kepada pembaca tanpa disertai penjelasan. Pembaca laporan disuruh menginterpretasikan sendiri tabel yang ada pada laporan. Kedua, menerangkan semua isi tabel dalam naskah laporan, sehingga membosankan dan member kesan bahwa penulis sendiri kurang menguasai permasalahan yang dihadapi. Beberapa prinsip analisis tabel dapat dirinci sebagai berikut:
1. Pengamatan data dalam tabel pada kolom total (marginal). Bagian ini merupakan ukuran pokok untuk perbandingan-perbandingan dalam tabel.
2. Beberapa temuan pokok dengan menyebut beberapa angka perlu dibahas sesuai dengan tujuan penelitian serta hipotesis yang akan diuji. Keeratan hubungan, linier, non-linier, dan mengapa terjadi bentuk hubungan tersebut.
3. Pembahasan pada angka-angka yang menyimpang dari pola umum.
4. Hasil setiap tabel sedapat mungkin dihubungkan dengan hasil penelitian lain (sampel dan metodologi yang hamper sama) dan juga dihubungkan dengan teori atau proporsi yang lebih luas. Suatu laporan penelitian yang penuh dengan tabel/angka tanpa dibandingkan dengan hasil penelitian lain sangat terbatas manfaatnya.
Perlu disadari bahwa dalam pendekatan kuantitatif, interpretasi sangat terpengaruh pada angka. Untuk tidak terjebak kepada interpretasi yang dangkal maka perlu dilengkapi dengan pendekatan kualitatif, misalnya wawancara mendalam atau focus group discussion.

G. Teknik Analisis Statistik (inferensial)
Teknik analisis dalam statistic dapat dibedakan menjadi dua, yakni Deskriptif dan inferensial. Statistik deskriptif merupakan cara analisis data dengan menggunakan mean, modus, mode, dan sejenisnya. Statistik inferensial berfungsi untuk generalisasi penemuan dari sampel ke populasi. Statistic inferensial dibedakan menjadi dua, yakni statistik parametric dan nonparametric. Teknik analisis parametric digunakan apabila data yang dikumpulkan distrubusinya normal. Statistik nonparametric digunakan bila distribusi data tidak normal.
Analisa koralsi berbagi variable dalam kaitannya dengan jenis dan jumlah variable yang dianalisis selengkapnya dapat dilihat pada table 3 berikut ini.




Tabel 4. Jenis Teknik Analisis Korelasi dan Jenis Variabel
Teknik Analisis Symbol Variabel 1 Variabel 2
Korelasi produk momen R kontinum kontinum
Korelasi Rank spearman P rank rank
Kendall tau R rank rank
Korelasi biserail rpbis Dikotomi artificial kontinum
Korelasi biserial Widespread rwbis Dikotomi artificial widespread kontinum
Korelasi point biserail Rp Dikotomi nyata kontinum
Korelasi tetahorik rt Dikotomi buatan Dikotomi buatan
Koefisien Phi Ø Dikotomi nyata Dikotomi nyata
Koefisien kontingensi C Dua kategori atau lebih Dua kategori atau lebih
Ratio korelasi N kontinum Kontinum
Sumber: Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatn Praktik

Teknik analisis lain yang sangat diperlukan dalam studi geografi adalah uji beda. Uji beda ini sangat mendukung kajian geografi karena geografi sendiri merupakan ilmu untuk mengetahui persamaan dan perbedaan fenomena geosfir. Jenis penelitian komparasi dapat digunakan untuk keperluan mengetahui persamaan dan perbedaan. Untuk mengetahui kondisi variable antara berbagai kelompok masyarakat atau antar wilayah dapat digunakan teknik uji-t, uji anova (one way dan two way). Hanya saja untuk melakukan analisis data dengan mengunakan Anova memerlukan sejumlah persyaratan. Persyaratan tersebut adalah: data yang akan dianalisis harus berdistribusi normal, relative homogin, dan sampel tidak memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Dengan demikian sebelum melewati langkah analisis, data harus melalui tahap uji normalitas dan uji homoginitas. Analisis data ini selanjutnya dapat secara mudah dilakukan dengan memasukkan data tersebut ke program SPSS.
Suatu contoh pemanfaatan Anova, yakni untuk mengetahui apakah antara masyarakat kampong Sukamaju, Sukamandiri, sukacinta memiliki kualitas penduduk yang sama? Atau untuk menguji hipotesis apakah terdapat perbedaan yang signifikan pola kerja pada rumah tangga penduduk kota, pinggiran kota, dan perkotaan.
BAB V
ASPEK-ASPEK TEKNIS YANG PERLU DIPERHATIKAN PENELITI
DALAM PENGUMPULAN DATA

Peserta KKL merupakan mahasiswa yang sedang berlatih untuk menjadi peneliti, sehingga kegiatan KKL merupakan ajang untuk secara serius memperhatikan aspek teknis maupun non teknis. Aspek teknis dalam pengumpulan data penelitian gejala social ekonomi berkaitan langsung dengan manusia/masyarakat, oleh karena itu perlu diperhatikan aspek teknis berhubungan dengan masyarakat. Tanpa memperhatiak aspek teknis ini, maka tujuan penelitian KKL tidak dapat berhasil secara optimal atau bahkan kemungkinan terburuk adalah gagal total.
A. Pedoman berperilaku dalam wawancara
Menurut Irawati Singarimbun (dalam Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, 1989) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni:
1. Sebelum wawancara dimulai, pewawancara harus mampu menciptakan hubungan baik dengan responden, atau mengadakan rapport. Rapport adalah suatu situasi psikologis yang menunjukkan bahwa responden bersedia bekerja sama, bersedia menjawab pertanyaan dan member infoprmasi sesuai dengan pikirannya dan keadaan sebenarnya. Rapport ini ditandai oleh responden merasakan kehangatan dan sikap simpatik dari pihak pewawancara dan merasa bebas untuk mengmukakan jawabannnya. Usahakan wawancara tidak terkesan seperti interogasi, tetapi seperti orang mengobrol.
2. Tampilkan kesan pertama yang baik
Saat pertama kali bertemu ucapkan salam, perkenalkan diri, dan sampaikan tujuan kedatangan. Ucapan dan perilaku pertama pewawancara sangat perlu diperhatikan agar responden merasa nyaman dan terangsang untuk bersikap kooperatif. Perilaku yang perlu ditunjukkan misalnya: berpakaian sopan dan sederhana, raut muka yang cerah
3. Menggunakan etika berinteraksi dengan orang lain
Bersikap hormat pada responden, ramah (tetapi tidak perlu terlalu banyak basa-bas), sikap penuh pengertian, sanggup menjadi pendengar yang baik. Tanamkan pada diri pewawancara bahwa kita lah yang membutuhkan responden, sehingga pewawancara jangan sampai terkesan memaksa dan bersikap tidak etis kepada responden.
Adapun kode etik bagi pewawancara adalah:
a. Jujur dalam pengisian kuesioner
b. Jujur dalam mencatat jawaban
c. Cermat
d. Objektif, netral, tidak mempengaruhi responden
e. Menulis jawaban responden secara lengkap
f. Menaruh perhatian dan penuh pengertian
g. Sanggup membuat rsponden tenang dan bersedia menjawab pertanyaan
h. Menghargai responden
4. Memperhatikan prosedur wancara
a. Utamakan kunjungan kepada responden tempat tinggalnya berdekatan
b. Pilihlah waktu yang tepat untuk berkunjung
c. Bila tidak dapat bertemu dengan responden, carilah informasi kepada tetangga atau anggota keluarga kapan pewawancara dapat berkunjung lagi
d. Bersikap bijak dalam membuat perjanjian (sebaiknya responden yang menentukan waktu kunjungan dan datanglah tepat waktu, bila terpaksa harus menunggu maka sebaiknya pewawancara mengerjakan pekerjaan lainnya seperti memeriksa kembali kuesioner yang telah terisi lengkap)
e. Kunjungan sebaiknya dilakukan seorang diri, atau bila terpaksa harus bersama teman sebaiknya tidak lebih dari 1 orang lainnya.
f. Sebaiknya kondisikan agar responden dalam keadaaan seorang diri.
g. Mempersilahkan responden bila ingin memberikan tambahan keterangan
h. Memohon kepada responden agar bersedia ditemui lagi bila diperlukan. Pentingnya permohonan ini adalah bila terjadi kesalahan penulisan jawaban, ragu-ragu karena secara logika tidak benar, atau ada pertanyaan yang terlewatkan. Dalam hal ini, maka pewawancara perlu berkunjung lagi.
i. Pada saat berpamitan jangan sampai lupa disampikan ucapan terima kasih secara bersungguh-sungguh dalam suasana yang hangat.

B. Masalah-masalah Teknis yang muncul di lapangan
Berbagai masalah di lapangan seringkali terjadi di luar perhitungan peneliti. Berbagai kemungkinan masalah yang terjadi antara lain:
1. Alamat rsponden sukar dicari
2. Sulit bertemu responden, telah berkali-kali didatangi tetapi tetap tidak bertemu
3. Responden kurang dapat memahami bahasa pewawancara
4. Responden kurang baik pendengarannya
5. Responden tidak berkenan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menurut responden peka atau tabu
6. Pengkondisian agar responden sendirian (tidak ditemani isteri atau anak) tidak berhasil
7. Gangguan dari anak-anak responden yang masih kecil
8. Pewawancara ditolak wawancaranya.
Penolakan terjadi karena beberapa sebab, antara lain:
a. Pewawancara kurang berhati-hati dalam bertutur kata, sehingga menyinggung perasaan responden
b. Cara bertutur kata yang tidak adaptif dengan lingkungan responden, biasanya karena kebiasaan di daerah asal mahasiswa kalau bicara keras sehingga terkesan membentak-bentak
c. Pewawancara berpakaian dan berperhiasan secara berlebihan, sehingga responden merasa minder dan enggan diwawancarai
d. Pewawancara terkesan sebagai petugas pemerintah (pegawai pajak, bank) sehingga responden menduga hendak ditagih hutangnya.
9. Masalah pengisian kuesioner
a. Tulisan jawaban tidak jelas
b. Kalimat kurang jelas atau sulit dimengerti
c. Pertanyaan yang tidak berlaku tidak dicoret, sehingga terkesan tidak lengkap
d. Ada pertanyaan yang belum terjawab (dalam hal ini pewawancara tidak diperkenankan mengarang jawaban).

C. Peralatan yang Perlu Dipersiapkan
Pencari data hendaklah mempersiapkan segala sesuatu yang sekiranya diperlukan untuk menunjang kelancaran kerja. Masalah yang sering terjadi di lapangan misalnya isi ballpoint habis, penyerut pensil tidak ada, ada kesalahan penulisan jawaban, dan lain-lain. Untuk mengatasi hal-hal tersebut maka perlu persiapan segala peralatan. Adapaun alat yang perlu dipersiapkan adalah:
1. Buku catatan saku
2. Buku catatan ukuran sedang (blocknote)
3. Pensil lebih dari satu. Keuntungan menggunakan pensil adalah bila terdapat kesalahan penulisan jawaban dapat dengan mudah dihapus
4. Karet penghapus
5. Penyerut pensil
6. Kuesioner tambahan (untuk mengantisipasi kesalahan penulisan atau rusak)
7. Stopmap plastic
8. Handboard untuk alas menulis
9. Surat pengantar/keterangan diri
10. Surat izin survai
11. Kartu ID (KTP atau kartu mahasiswa)
12. Daftar responden
13. Peta
14. Obat-obatan khusus bagi masing-masing peneliti jika diperlukan














BAB VI
PENYUSUNAN LAPORAN DAN PENILAIAN

A. Penyusunan Laporan
Ada dua alternatif cara penyusunan laporan hasil kerja lapangan, yakni penyusunan laporan dilakukan di lokasi kerja lapangan dan penyusunan laporan dilakukan di kampus. Kedua cara tersebut masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Kelebihan penyusunan laporan di lokasi KKL adalah (1) laporan dapat tersusun secara cepat karena ada tarjet waktu yang cepat (2) penilaian dapat dilakukan sesegara mungkin, yakni saat mahasiswa masih berada di lapangan. Dengan demikian penyerahan nilai hasil kuliah kerja lapangan ke subbag Akademik juga dapat dilakukan sepulang dari lapangan; (3) kemungkinan data tercecer atau hilang sangat kecil; (4) ingatan mahasiswa masih segar; (5) bila dalam penyusunan laporan terdapat kekurangan data, mahasiswa dapat melengkapi data dengan kembali turun ke lapangan.
Kelebihan dari penyusunan laporan di kampus adalah (1) menghemat biaya, karena penysunan laporan memerlukan waktu seharian di lokasi (base camp) sehingga memerlukan biaya, padahal kalau hanya menyusun laporan dapat dilakukan di kampus; (2) kualitas laporan dapat lebih baik, karena terdapat waktu yang cukup untuk analisis data, interpretasi, dan memberikan deskripsi terhadap data yang diperoleh sehingga laporan menjadi komprehensif dan memiliki tampilan yang menarik; (3) Dukungan referensi yang memadahi, yakni mahasiswa dapat mencari berbagai data pendukung dari berbagai jurnal dan buku; (4) ada waktu yang cukup bagi mahasiswa untuk berdiskusi dengan teman sekelompok maupun dengan pembimbing mengenai permasalahan yang diteliti di lapangan, sehingga dapat diperoleh kesimpulan yang baik; (5) dukungan peralatan laboratorium di kampus yang memungkinkan data dapat diuji secara lebih teliti dan hati-hati.
Susunan laporan hasil kuliah lapangan dapat bervariasi asalkan memenuhi persyaratan kandungan, seperti: latar belakang masalah, identifikasi maalah, maksud/tujuan penelitian, perumusan masalah, kajian pustaka, kerangka berpikir, hipotesis (bila penelitian dilakukan untuk menguji hipotesis), metode penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, simpulan, dan daftar pustaka. Untuk memudahkan pengecekan dan penilaian oleh dosen pembimbing, sebaiknya sistematika laporan mengikuti pola berikut:

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Perumusan Masalah
E. Tujuan Kegiatan
F. Manfaat Kegiatan
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
B. Kerangka Berpikir
C. Hipotesis Penelitian
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
B. Popolasi dan Sampel
C. Teknik pengambilan Sampel
D. Teknik pengumpulan data
E. Instrumen penelitian
F. Pengolahan data
G. Teknik analisis data
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Daerah Penelitian
B. Hasil Penelitian
C. Pembahasan
BAB V. PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

B. Penilaian
Penilaian dilakukan oleh para dosen pembimbing masing-masing kelompok mahasiswa. Hasil penilaian dari masing-masing dosen pembimbing diserahkan kepada dosen yang bertindak sebagai Koordinator KKL. Adapun komponen penilaian mencakup beberapa aspek, yakni: keaktifan saat pembekalan atau kehadiran, kerjasama dalam kerja kelompok, keaktifan di lapangan, penyusunan laporan, penguasaan kompetensi saat ujian akhir. Bobot penilaian masing-masing komponen tertera pada table 4 berikut:

Tabel 4. Komponen dan Bobot penilaian KKL Sosek
No Komponen penilaian Bobot
1. Keaktifan saat pembekalan 5%
2. Kerjasama dalam kelompok 10%
3. Keaktifan di lapangan 25%
4. Penyusunan laporan 15%
5. Ujian akhir 45%
Jumlah 100%

Tabel 5. Pedoman penilaian
Standar nilai Nilai Huruf Predikat
86 – 100 A Sangat baik sekali
80 – 85 A- Baik sekali
75 – 79 B+ Lebih dari baik
71 – 74 B Baik
66 – 70 B- Agak baik
64 – 65 C+ Lebih dari cukup
56 – 63 C Cukup
00 – 55 D Kurang
Sumber: Buku Peraturan Akademik UNY tahun 2004
DAFTAR PUSTAKA

Martinis Yamin. 2005. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada Press.

Masri Singarimbun dan Sofian Effendi (ed). 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES

Rice, Gwenda A., and Bulman, Teresa L., 2001. Fieldwork in the Geography Curriculum: Filling the Rethoric-Reality Gap. Indiana: National Council for Geographic Education

Slamet Suprayogi, dkk., 2005. Panduan KKL 2 Geografi Fisik dan Lingkungan.Yogjakarta: Fakultas Geografi UGM.

Suharyono dan Moch. Amin, 1994. Pengantar Filsafat Geografi. Jakarta: P3MTK Dirjen Dikti

Sumaatmadja, Nursid, 1988. Studi geografi: Suatu Pendekatan dan Analisa Keruangan. Bandung: Penerbit Alumni

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Tim, 2004. Pedoman Akademik UNY. Yogyakarta: UNY Press.